[FANFIC] Hello Goodbye

Gyaaaaa akhirnya selesai juga nulis FF ini XD ini FF Infinite pertamaku! Sebelumnya hampir post ff 2pm tapi nggak jadi, ff FT Island juga macat. Semoga yang ini nggak macet ya :’)
Sorry I post in Bahasa because actually I want to wrote in english and post in asianfanfics too. But I just started it with Bahasa and I’m too lazy to rewrite it in english~_~ I’ll post different story which still linked with this story but after I finished this story 😀

=================


Author: DF_HanMY
Judul: Hello Goodbye
Main Cast: Han _____ (you), Kim Myungsoo (INFINITE)
Other Cast:  Other Infinite Member
Genre: Romance(?), Friendship
Length: Oneshoot
Rating/Pairing : G/Straight
Disclaimer: All of the cast aren’t mine but, the story is mine. I do own this story, so please don’t copy paste without any credits.

Di sebuah taman di kota Seoul, anak-anak kecil bermain dengan bebasnya sedangkan orang tua mereka mengobrol sembari mengawasi anak ananknya. Di pojok taman terlihat dua orang ibu yang sedang mengobrol. Salah satu dari mereka menggandeng seorang gadis kecil berumur sekitar 3 tahun. Di dekatnya terdapat sebuah pohon rindang dimana terdapat kursi taman di bawahnya. Di samping pohon terlihat seorang anak laki-laki yang sedang mencari sesuatu dia dekat pohon dan semak.
“Myungsoo kemari sebentar!” Panggil salah satu ibu yang tidak menggandeng anak kepada anak kecil yang sedang di dekat pohon. Anak kecil yang bernama Myungsoo pun menghentikan pencariannya dan menghapiri ibunya. Dia hanya menatap ibunya kemudian menatap ibu dan ank yang ada di depannya.
“Ini tetangga baru kita yang tinggal di samping rumah. Nyonya Han, ini anak saya Myungsoo. Myungsoo ayo ucapkan salam pada Nyonya Han dan anaknya,” ujar sang ibu.
“Annyeonghaseyo~ Kim Myungsoo imnida,” Myungsoo memberi salam sambil membungkukkan badannya.
“Aigoo~ lucunya Nyonya Kim. Ayo Minyoung, beri salam pada Myungsoo.”
“Annyeonghaseyo~ Han _____ imnida,” gadis kecil itu juga memberi salam sambil membungkukkan badannya.
“Waa manis sekali~ Ya sudah Myungsoo, bermainlah bersama ______. Eomma dan Nyonya Han akan beli popcorn buat kalian, kalian mau kan?” kedua anak kecil itu menganggukkan kepalanya dengan mantab. Kedua ibu itu pun meninggalkan mereka menuju ke salah satu stand yang ada di taman.
“Ayo kita main ayunan disana!” ajak Myungsoo sambil berjalan setengah berlari ke arah ayunan.
“Eung,” ______ pun mengikuti Myungsoo untuk bermain ayunan.
=======#%&^^%%#%#=======
13 tahun kemudian
“Ya Myungsoo! Kim Myungsoo!” teriak seorang gadis sambil setengah berlari kearah laki-laki bernama Myungsoo yang sedang berjalan agak jauh di depannya. Merasa dipanggil Myungsoo pun berhenti dan menengok ke belakang.
“Eo? ______?” Myungsoo terlihat heran bertemu _____ di jalan.
“Ya! Kenapa kamu ninggal, huh? Malah pulang duluan,” ujar ______ sambil memukul lengan ______.
“Ninggal? Bukannya  kamu bilang mau pergi sama Jieun?”
“Nggak jadi. Tiba-tiba Jieun nggak bisa dia di suruh jaga adiknya. Aku udah kirim pesan ke kamu ‘tunggu aku di gerbang’ tau. Eh ternyata malah ketemu kamu di sini.”
“Pesan? Aaa.. ponselku mati jadi aku nggak bisa buka pesanmu. Mian~ hehe.”
“Aish kamu ini. Aku udah nunggu di gerbang tau. Untung baru sebentar Jieun lewat dan bilang kalau kamu udah pulang.”
“Ehehe mian, aku kan juga nggak tahu.”
Mereka pun berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari tempat mereka bertemu. Beruntung bus mereka muncul tepat saat mereka sampai di halte.  10 menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Mereka pun turun dan berjalan menuju rumah mereka yang berjarak 1 blok dari halte.
‘F.T I.S.L.A.N.D let’s go!’ Ponsel _______ berdering. ______ pun segera membuka ponselnya. Dia tertawa kecil membaca pesan itu.
“Waeyo?” tanya Myungsoo yang dari tadi diam-diam memperhatikan Minyoung.
“Aigoo~ Bahkan anak sekolah lain pun bisa mengidolakanmu yang keras kepala itu. Aku yang bermain, berangkat sekolah, pulang sekolah, mengerjakan PR, belajar, sesekolah, bahkan sampai sekarang selalu sekelas denganmu saja nggak ngerti apa sisi bagusnya seorang Kim Myungsoo selain wajahmu yayang ya… aku akui cukup tampan. Tapi rambutmu yang berantakan itu sangat nggak mendukung!”
“Nggak ngerti apa nggak mau mengakui, huh?” ujar Myungsoo sambil tersenyum jail.
“Ckckck, jangan kepedean deh. Ah udah sampai, aku masuk dulu ya. Jangan lupa nanti malam nonton film di rumahku.”
Myungsoo mengacungkan kedua ibu jarinya sambil berjalan ke pintu rumahnya. _______ membalas dengan senyum dan juga berjalan menuju pintu rumahnya yang berada di seberang rumah Myungsoo.
=======#%&^^%%#%#=======
2 tahun kemudian
Saat itu pukul waktu menunjukan pukul 11 malam. Terlihat cahaya terang dari dalam ruang latihan di salah satu gedung di daerah Seoul. Di dalamnya terdapat 7 namja sedang berlating dance didampingi seorang choreographer yang duduk di belakang mereka. Mereka adalah Infinite, boygroup yang akan debut beberapa bulan lagi yang terdiri dari Kim Sunggyu, Jang Dongwoo, Nam Woohyun, Lee Howon, Lee Seungyeol, Kim Myungsoo, Dan Lee Sungjong. Setelah lagu mereka selesai sang choreographer itu pun berdiri sementara ketujuh namja itu duduk mengistirahatkan tubuhnya setelah ber jam-jam berlatih.
“Oke latihan hari ini selesai, kalian bisa pulang ke dorm. Besok kalian kuberi break. Manfaatkan waktu ini untuk menjernihkan pikiran kalian dan mengistirahatkan badan kalian agar saat debut nanti kalian bisa lebih segar atau sekedar bertemu orang tua. Kalian bisa mengambil ponsel kalian, aku akan meletakannya di sini,” ujar choreographer itu.
“Ne kamsahamnida,” jawab ketujuh namja itu.
“Baiklah saya pulang dulu ya,” choreographer itu pun membereskan barangnya serta mengeluarkan ponsel ketujuh namja tersebut yang di bawa oleh pihak manajemen agar mereka bisa fokus ke persiapan debut. Setelah selesai dia beranjak keluar ruangan sementara ketujuh namja itu berdiri dan membungkukkan badan. Setelah sang choreographer menghilang di balik pintu mereka kembali duduk.
“Omo~ akhirnya kita dapet break. Myungsoo aku mau minum,” ujar Sunggyu yang duduk di samping Myungsoo. Myungsoo yang memegang botol air mineral pun memberi air mineral itu kepada Sunggyu.
“Besok kita nggak ada schedule kan? You’re My Oppa masih lusa kan?” Tanya Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya suara nafas mereka yang masih tidak beraturan karena capek.
Myungsoo P.O.V
Dreeet dreeet’ terdengar suara ponsel yang bergetar di meja memecah keheningan malam. Aku yang paling dekat dengan meja pun reflek mengecek ponsel dan ternyata ponsel yang bergetar itu ponselku.
“Milikku,” ujarku kepada member lain sambil kembali duduk sementara yang lain berdiri mengambil ponsel mereka masng-masing untuk mengecek pesan atau yang lainnya. Ternyata ada 8 pesan masuk. Tetapi dari 8 pesan itu hanya ada 1 yang menurutku penting untuk dibalas. Pesan yang masuk sekitar 2 jam yang lalu.
From: Han ________ :))
Hei kepala batu! Apa besok kamu sibuk?
To: Han ________ :))
Tidak. Aku ada break besok. Wae? Bogopa(kangen)? 😛
            Kukira sahabatku dari kecil itu tidak akan membalas pesannya karena ini sudah larut malam. Tetapi ternyata 2 menit kemudian ada pesan masuk.
From: Han ________
Ne bogopa 😛 Apa kamu akan pulang? Ayo main!
            Aku reflek tersenyum mebaca pesan itu. Entah kenapa aku merasa senang. Ya mungkin namanya juga sahabat. Siapa sih yang nggak bahagia kalo sahabat sendiri ternyata kangen setelah nggak ketemu selama hampir setengah tahun?
            “Ya Myungsoo, kenapa kamu senyum-senyum sendiri. Aaaa pesan dari yeojachingu? Hahaha,” goda Seungyeol yang duduk di seberangku diikuti tawa kecil dari yang lainnya.
           
            “Aniya! Yeojachingu aniya! Eobseo.”
            “Geotjimal~ Baiklah bukan yeojachingu, tapi yeoja kan?” Sunggyu ikut menggoda Myungsoo.
            “Oke oke, yeoja.. tapi itu teman masa kecilku!” Aku membela diri.
            “Wa ini! Biasanya teman masa kecil itu..”  Seungyeol menghentikan kalimatnya dan malah tersenyum menggoda.
            “Falling in love~ hahaha” Woohyun menyelesaikan kalimat Seungyeol dengan nada setengah bernyayi.
            “Aaa molla! Terserah kalian mau bilang apa,” Aku memalingkan pandangan dari mereka semua, pura-pura marah. Member lain pun menanggapi dengan tertawa.
            ‘Dreeeeet.. Dreet..’ ponselku bergetar lagi.
            From: Han _______ :))
            Kepala batu! Kenapa kamu nggak bales?-..- Udah tidur?
            “Tuh kan gara-gara kalian aku jadi lupa balas pesan temanku!” gerutuku. Sunggyu yang duduk di sampingnya hanya tertawa kecil.
            To: Han ________ :))
            Mian tadi lagi ngobrol sama member lain jadi lupa bales, hehe. Iya mungkin aku bakal mampir rumah. Cuma 1 hari soalnya. Ayo! Aku jemput di rumahmu jam 9 ya?
            From: Han ________ :))
            Oke. Gidarilkke :))
            =======#%&^^%%#%#=======
            To: Han ________ :))
            Udah selesai? Gaja?
            From: Han ________ :))
            Ne, gaja! Aku akan turun :))
Myungsoo P.O.V -end-
Your P.O.V
            Aku pun turun setelah membalas pesan Myungsoo. Sudah hampir setengah tahun aku jarang bertemu dengannya. Sejak dia jadi ikut audisi di Woollim Entertaiment dan jadi trainee dia tinggal di dorm, kembali hanya saat event-event tertentu saja. Dan yah.. namanya juga trainee, hampir tidak ada waktu senggang. Bahkan pulang pun mungkin hanya seminggu sekali. Beberapa bulan grupnya yang bernama Infinite itu akan debut jadi dia benar-benar sibuk sekarang. Entah aku beruntung atau apa saat aku kirim pesan kepadanya dia ada waktu luang! Jadi kita memutuskan untuk jalan-jalan. Sebenarnya saat ini dia bilang sedang di tengah schedule shooting salah satu acara TV yang kalau tidak salah berjudul You Are My Oppa yang akan tayang tidak lama setelah Infinite debut. Dan hari ini adalah hari ulang tahun Myungsoo! Aku sudah merencanakan sesuatu untuk dia.
           
            “Eomma aku pergi dulu!” begitu aku membuka pintu Myungsoo sudah ada di atas motornya. Dia tersenyum melihatku. Aigoo~ aku suka melihat senyumnya. Entah kenapa akhir-akhir ini aku menyadari senyumnya itu.. manis. Dan hampir setengah tahun tidak bertemu dengannya membuatku.. lega? Bahagia? Apapapun itu yang penting aku merasa senang bisa bersamanay lagi. Walaupun hanya sehari. Ya sehari.
“Gaja?” ujar Myungsoo. Aku pun mengangguk dan segera naik.
Your P.O.V -end-
            “Uwaaa, rasanya udah lama banget sejak terakhir kali kita main di sini, dan ini pertama kalinya kita akan main seharian sejak kamu jadi trainee!” ujar ______ begitu mereka memasuki Lotte World. Myungsoo hanya menatap _______ sambil tersenyum geli yang dibalas dengan tatapan heran oleh _______.
            “Wae?” tanya Myungsoo.
            “Apa kamu sakit?”
            “Aniyo,” sekarang Myungsoo juga menatap ______ heran.
            “Jadi kenapa kamu cuma diem senyum nggak kayak biasanya kalo kita ke sini? Biasanya kan kamu langsung heboh sendiri langsung ngajak naik ini itu makan ini itu.”
            “Aaaaa itu! Itu.. Aku lagi latihan.”
            “Ha? Latihan? Latihan apaan?”
            “Aku pernah cerita kan name stage ku L? Nah kamu juga tau kan L itu gimana? Ya itu imageku! That’s why.”
            “Aaa arasseo.. Tapi kan hari ini kita bakalan bersenang-senang. Kapan lagi kamu ada break sementara debut mu tinggal beberapa bulan lagi? Ayo jadilah Kim Myungsoo untukku dan kita bersenang-senang! Kali ini aku yang pilih wahana duluan!” _______ menarik Myungsoo ke salah satu wahana lalu melanjutkan ke berbagai wahana lainnya untuk melepas stres. Matahari semakin meninggi mereka pun makan di salah satu foodcourt. Sembari makan siang mereka bernostalgia mengingat saat pertama kali mereka ke Lotte World, berbagai kejadian konyol yang terjadi saat itu. Mereka juga bercerita saat-saat dimana tidak bersama. Myungsoo bercerita tentang member Infinite. Tentang bagaimana Sunggyu yang berusaha jadi leader yang baik, Sungjong yang suka latihan girl group dance sembunyi-sembunyi, Dongwoo yang unik dan sering menaikkan mood para member, Hoya yang sangat jago dancing, Woohyun yang sering bertanya “Apa aneh kalo aku melakukan aegyo seperti ini untuk fans?”, dan Seongyeol yang choding tapi kalau serius dia akan serius kecuali untuk mencairkan suasana.
“Myungsoo, lihat ini!” Myungsoo yang tertinggal di belakang menuju ke tempat ________.
“Mweo?” tanya Myungsoo setelah sampai di tempat _______.
“Boneka beruang itu, neomu gwiyeopda(so cute)! Beberapa hari lalu aku sama Jieun ke sini dan aku coba ambil boneka itu tapi kami sama-sama gagal. Nggak nyangka bonekanya masih.”
“Mau aku coba ambilin?”
“Eung!” ______ menjawab dengan semangat.
“Tapi kamu yang beli koinnya aku cuma ambil, oke?”
“Yes Sir!” ________ pun segera ke counter untuk membeli koin sementara Myungsoo tersenyum geli melihat tingkahnya. Setelah kembali sambil membawa 4 keping koin Myungsoo mulai mencoba keberuntungannya untuk mendapatkan boneka itu. Percobaan pertama, gagal. Percobaan kedua, gagal. Percobaan ketiga, HAMPIR! Ah mereka sampai heboh sendiri karenanya. Sampai akhirnya tinggal ada 1 koin, 1 harapan. Dan… YAP! Kim Myungsoo beruntung! Pada kesempatan terakhir akhirnya Myungsoo mendapatkan boneka itu.
“Kyaaaa! Daebak! You got it! Gomawo Kim Myungsoo! ” ________ spontan memeluk Myungsoo lalu loncat-loncat kegirangan.
Myungsoo dan _______ melanjutkan permainan merekaMatahari pun mulai menurun sampai akhirnya tenggelam. Mereka pun menuju ke area Magic Island untuk melihat pesta kembang api.
Myungsoo P.O.V
            “Uwaaaa yeppeuda~ Neomu yeppeo,” ujar _______ takjub. Refleks aku melihat ke arahnya. Aku tersenyum sendiri melihat ekspresi takjub nya. Gwiyeopda~(cute) pikirku. Betapa bahagianya dia melihat kembang api seperti belum pernah melihat pesta kembang api. Apa karena hampir setengah tahun aku tidak bertemu dengannya? Rasanya bahagia melihatnya bahagia seperti itu. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir melihatnya tersenyum bahagia seperti itu. Yah setengah tahun cukup lama bagiku, aku akui rasanya lega bisa melihat senyum nya lagi. Bisa menghabiskan waktu bersama dengannya lagi. Aku bahagia. Neomu haengbokhae(sangat bahagia). Ya, aku tau, aku mengakui, aku Kim Myungsoo menyukai Han _______. Aku tahu itu, aku tahu itu sejak awal jadi trainee. Tapi apa boleh buat, aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku dan aku tidak mau menghancurkan persahabatan kita. Setidaknya untuk saat ini bisa terus bersamanya walau dalam friend zone sudah cukup. Apa lagi sebentar lagi aku debut. Aku tidak ingin menimbulkan masalah di awal karirku.
            “Myungsoo? Kim Myungsoo!” _______ mencubit pipiku dan membuatku tersadar dari lamunanku.
            “Ya ya ya! Apeo(sakit)! Wae wae?!” aku mengusap pipiku.
            “Berhenti tersenyum sendiri sambil terus menatapku seperti orang aneh.”
            “Ya! Siapa yang menatapmu!” aku mulai salah tingkah.
            “Aish, tidak mau mengakui. Bahkan kamu nggak sadar kan kembang apinya sudah selesai?”
            “Aa.. Jinjja?” Aku melihat ke arah Magic Catle dimana kembang api tadinya diluncurkan. Dan ternyata memang kembang apinya sudah tidak ada. Aku melihat sekitar dan ternyata orang-orang sudah mulai membubarkan diri.
            “Jam berapa ini? Omo~ udah jam setengah 7! Jibe gaja(ayo pulang ke rumah) Myungsoo-ah!” sebelum sempat kujawab _______ sudah menarik lenganku.
            Di perjalanan pulang _______ tertidur di pundakku. Aku tahu menyangga kepala orang selama hampir setengah jam itu pegal, tapi ya udah sih itu kebahagiaan tersendiri(?). Baru 5 menit sejak kita naik bus dan dia sudah tertidur, anak ini benar-benar. Ya baiklah dia terlalu semangat hari ini, entah kapan terakhir kali aku lihat dia sesemangat ini. Biasanya aku yang lebih semangat dari dia menggeretnya kesana kemari memilih permainan. Ah ya aku ingat sesuatu! Hari ini ulang tahunku! Aigoo kenapa bahkan aku sendiri bisa lupa ya? Padahal tadi pagi sebelum pergi Eomma, Appa, dan adikku mengucapkan selamat ulang tahun. Member Infinite dan beberapa temanku yang lain juga mengirimiku pesan. Tapi kenapa anak satu ini yang mengahbiskan waktu seharian dengaku sama sekali tidak menyinggung tentang ulang tahunku? Bahkan sekarang dia tertidur dengan nyenyaknya. Kecewa? Yah rasa kecewa itu pasti ada kan?
Myungsoo P.O.V -end-
            “Bye bye Kim Myungsoo!” ucap ______ sambil berjalan ke pintu rumahnya sementara Myungsoo melambaikan tangan dan menuju pintu rumahnya juga.
Myungsoo P.O.V
5 menit kemudian…
From: Han _______ :))
Ayo ketemu di taman jam 9. Ada yang mau aku omongin.
Umm? Ada apa ini? Baru aja pisah tiba-tiba mau ketemu lagi?
            To: Han _______ :))
            Okay. Wae guraeyo?
            From: Han _______ :))
            Pokoknya ada sesuatu.
Aaa.. Apa dia mau mengejutkanku karena hari ini hari ulang tahunku? Aigoo anak ini. Ah aku jadi kepikir! Apa nanti setelahnya akumengungkapkan perasaanku saja? Okay why not? Semoga ini tidak menghancurkan persahabatan kita! Tapi… kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain? Perasaanku tidak enak.
Myungsoo P.O.V -end-
            Seorang laki-laki duduk berayun pelan di ayunan sebuah taman dekat rumahnya, menunggu seseorang. Dia setengah melamun. Beberapa detik kemudian ia tersadar dari lamunannya dan melihat jam di ponselnya.
            “Jam 8.05, kenapa ______ belum muncul?” gumamnya, “baiklah mungkin mendadak tiba-tiba eommanya memintanya untuk melakukan sesuatu. Pasti sebentar lagi dia juga muncul. Pasti.”
            Tak lama kemudian dari belakang laki-laki itu muncul seorang gadis membawa sebuah cupcake dengan satu lilin di atasnya. Dia berjalan pelan dan hati-hati tanpa menimbulkan suara agar tidak di sadari laki-laki itu.
“Saengil chukhahamnida.. Saengil chukhahamnida.. Saranghaneun Kim Myungsoo.. Saengil chukhahamnida.. “ gadis itu mulai bernyanyi. Laki-laki yang ternyata Myungsoo itu menghentikan ayunannya dan menoleh ke arah gadis itu. Dia tersenyum sementara si gadis berdiri di sampingnya.
Mian sudah selarut ini baru ucapin selamat ulang tahun, tapi ini bagian dari rencanaku karena kita tadi jalan-jalan dulu. Ayo tiup lilinnya, jangan lupa buat permohonan,” pinta gadis itu. Myungsoo pun meniup lilin lalu cupcake itu diserahkan ke Myungsoo, “igeo(ini), aku buat sendiri lho.”
“Gomawo ______-ah~” ujar Myungsoo menerima cupcake sambil tersenyum ke gadis yang ternyata _______.
“Aah, satu lagi,” ______ mengambik sesuatu dari kantong celananya,”Ini hadiahmu.” _______ memberikan hadiahnya ke Myungsoo lalu duduk di ayunan sebelahnya.
“Ige mweoya? Gantungan ponsel?” tanya Myungsoo. _______ mengangguk.
“Kim.. Myung.. Soo,” gantungan ponsel itu dari flanel dan berupa tulisan 김명수 secara vertikal, “kau membuatnya sendiri?” lagi-lagi ______ hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Myungsoo yang kemudian menatap ke langit.
“Gomawo~” Myungsoo berterima kasih lagi tapi ______ hanya terdiam sambil menatap langit. Mereka berdua terdiam di tengah sepinya malam. Suara hewan malam dan gemerisik angin terdengar jelas. Sesekali suara klakson mobil dari kota terdengar.
“Myungsoo-ah~” tiba-tiba ______ mecah keheningan tapi tetap menatap langit.
“Eung?”
“Kapan ya kita bisa ngehabisin waktu bareng lagi?”
“Selama aku ada waktu luang, why not? Ya mungkin aku bakal sibuk habis debut promosi dan lain-lain. Tapi nggak mungkin selamanya sibuk kan? Aku pasti ngabarin deh kalau ada waktu.”
“Hajiman(tetapi)..” _______ menatap tanah sementara kakinya menggerakkan ayunan pelan maju mundur.
“Waeyo?” Myungsoo menatap ______ heran.
“Besok aku pindah..”
“Jadi pindah ke Busan?”
“Ani.. ke luar negeri. Appa ditugaskan ke luar negeri.”
Myungsoo P.O.V
“Ani.. ke luar negeri. Appa ditugaskan ke luar negeri.”
Mweoya? Ke luar negeri? Jadi aku nggak bisa ketemu dia lagi?! Aigoo~
“Aa… a.a.. jadi gitu,” jawabku setenang mungkin,”Eodi(Di mana)? Ilbon(Jepang)?”
“Ani.. Indonesia.”
Glek! Indonesia? Jauh, itu jauh banget.
“Berapa lama?”
“Molla~ 1 tahun? 2 tahun? 3 tahun? Aku kan hanya ikut Appa.”
“Eonje(kapan)?”
“Berangkat? Besok.”
“Besok ini?” tanyaku. _______ menjawab dengan anggukan. Aish aku tidak bisa mengantarnya ke bandara dan mengucapkan selamat tinggal.
“Gantungan ponsel itu,” ______ menunjuk gantungan ponsel yang kupegang, “sekaligus kenang-kenangan dariku. Jadi, awas ya jangan sampai hilang!” dia menatapku dengan tatapan setengah bercanda ‘kalau hilang kubunuh kau’. Aku hanya tersenyum melihatnya,”Ah dan jalan-jalan tadi juga hadiahku!”
“Kalau begitu boneka beruang yang tadi aku ambilkan untukmu, itu kenang-kenangan dariku. Okay?”
“Okay!” _______ mengacungkan ibu jarinya lalu menatap ke tanah lagi.
“Ya Han _______~”
“Wae?”
“Keep in touch okay?” aku menatapnya.
“Ya~ Tentu aja! We’re bestfriend, right? Lagi pula ada Kakao Talk. Kita tetep bisa ngobrol Kim Myungsoo-ssi~ Aigoo nggak usah seserius itu kayak kita nggak bakal ketemu lagi aja,” ______ tertawa melihat wajahku.
“Aa.. iya ya,” aku mengalihkan tatapanku ke tanah. Lalu aku teringat sesuatu,”ah iya. Mian, besok aku nggak bisa antar kamu ke bandara. Besok aku latihan dan shooting You’re My Oppa.”
“Gwaenchanha~” dia tersenyum. Itu mengingatkanku kemungkinan aku tidak akan bisa liat senyumnya lagi secara langsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Ah aku benci ini. Aku teringat rencanaku untuk menyatakan perasaan. Canceled. Aku mebatalkannya. Ya kalau dia juga menyukaiku dan nggak bakal muncul ‘awkward feeling’ dan nggak menghancurkan persahabatan kita. Aku tidak mau kita berpisah dan malah lost contact. Kalau dia masih di sini aku masih bisa bertemu dengannya. Kalau tidak? Tidak tidak, yang penting aku masih bisa ngobrol dengannya. Itu cukup.
Myungsoo P.O.V -end-
“Omo! Udah jam setengah 10!” _______ berdiri tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Myungsoo.
“Ah? Eo? Jinjja?” Myungsoo menjawab setengah tergagap.
“Eung! Baiklah jibe gaja!” ______ membalikkan badan bersiap untuk kembali ketika tiba-tiba Myungsoo memeluknya dari belakang.
“Goodbye, see you soon, I will miss you,” ucap Myungsoo dengan lembut. _______ yang tadinya kaget pun akhirnya tersenyum.
“I will miss you too, Kim Myungsoo.”

============================================================

Gimana nasib Myungsoo sama “you”? Menurut kalian mereka bakal ketemu lagi? Maunya ada lanjutannya apa enggak?*emang ada yang baca? XD* Just wait and see! 😀
Thanks for read ya readers^^ 

Advertisements

[FANFIC] Hello Goodbye

Gyaaaaa akhirnya selesai juga nulis FF ini XD ini FF Infinite pertamaku! Sebelumnya hampir post ff 2pm tapi nggak jadi, ff FT Island juga macat. Semoga yang ini nggak macet ya :’)
Sorry I post in Bahasa because actually I want to wrote in english and post in asianfanfics too. But I just started it with Bahasa and I’m too lazy to rewrite it in english~_~ I’ll post different story which still linked with this story but after I finished this story 😀

=================


Author: DF_HanMY
Judul: Hello Goodbye
Main Cast: Han _____ (you), Kim Myungsoo (INFINITE)
Other Cast:  Other Infinite Member
Genre: Romance(?), Friendship
Length: Oneshoot
Rating/Pairing : G/Straight
Disclaimer: All of the cast aren’t mine but, the story is mine. I do own this story, so please don’t copy paste without any credits.

Di sebuah taman di kota Seoul, anak-anak kecil bermain dengan bebasnya sedangkan orang tua mereka mengobrol sembari mengawasi anak ananknya. Di pojok taman terlihat dua orang ibu yang sedang mengobrol. Salah satu dari mereka menggandeng seorang gadis kecil berumur sekitar 3 tahun. Di dekatnya terdapat sebuah pohon rindang dimana terdapat kursi taman di bawahnya. Di samping pohon terlihat seorang anak laki-laki yang sedang mencari sesuatu dia dekat pohon dan semak.
“Myungsoo kemari sebentar!” Panggil salah satu ibu yang tidak menggandeng anak kepada anak kecil yang sedang di dekat pohon. Anak kecil yang bernama Myungsoo pun menghentikan pencariannya dan menghapiri ibunya. Dia hanya menatap ibunya kemudian menatap ibu dan ank yang ada di depannya.
“Ini tetangga baru kita yang tinggal di samping rumah. Nyonya Han, ini anak saya Myungsoo. Myungsoo ayo ucapkan salam pada Nyonya Han dan anaknya,” ujar sang ibu.
“Annyeonghaseyo~ Kim Myungsoo imnida,” Myungsoo memberi salam sambil membungkukkan badannya.
“Aigoo~ lucunya Nyonya Kim. Ayo Minyoung, beri salam pada Myungsoo.”
“Annyeonghaseyo~ Han _____ imnida,” gadis kecil itu juga memberi salam sambil membungkukkan badannya.
“Waa manis sekali~ Ya sudah Myungsoo, bermainlah bersama ______. Eomma dan Nyonya Han akan beli popcorn buat kalian, kalian mau kan?” kedua anak kecil itu menganggukkan kepalanya dengan mantab. Kedua ibu itu pun meninggalkan mereka menuju ke salah satu stand yang ada di taman.
“Ayo kita main ayunan disana!” ajak Myungsoo sambil berjalan setengah berlari ke arah ayunan.
“Eung,” ______ pun mengikuti Myungsoo untuk bermain ayunan.
=======#%&^^%%#%#=======
13 tahun kemudian
“Ya Myungsoo! Kim Myungsoo!” teriak seorang gadis sambil setengah berlari kearah laki-laki bernama Myungsoo yang sedang berjalan agak jauh di depannya. Merasa dipanggil Myungsoo pun berhenti dan menengok ke belakang.
“Eo? ______?” Myungsoo terlihat heran bertemu _____ di jalan.
“Ya! Kenapa kamu ninggal, huh? Malah pulang duluan,” ujar ______ sambil memukul lengan ______.
“Ninggal? Bukannya  kamu bilang mau pergi sama Jieun?”
“Nggak jadi. Tiba-tiba Jieun nggak bisa dia di suruh jaga adiknya. Aku udah kirim pesan ke kamu ‘tunggu aku di gerbang’ tau. Eh ternyata malah ketemu kamu di sini.”
“Pesan? Aaa.. ponselku mati jadi aku nggak bisa buka pesanmu. Mian~ hehe.”
“Aish kamu ini. Aku udah nunggu di gerbang tau. Untung baru sebentar Jieun lewat dan bilang kalau kamu udah pulang.”
“Ehehe mian, aku kan juga nggak tahu.”
Mereka pun berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari tempat mereka bertemu. Beruntung bus mereka muncul tepat saat mereka sampai di halte.  10 menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Mereka pun turun dan berjalan menuju rumah mereka yang berjarak 1 blok dari halte.
‘F.T I.S.L.A.N.D let’s go!’ Ponsel _______ berdering. ______ pun segera membuka ponselnya. Dia tertawa kecil membaca pesan itu.
“Waeyo?” tanya Myungsoo yang dari tadi diam-diam memperhatikan Minyoung.
“Aigoo~ Bahkan anak sekolah lain pun bisa mengidolakanmu yang keras kepala itu. Aku yang bermain, berangkat sekolah, pulang sekolah, mengerjakan PR, belajar, sesekolah, bahkan sampai sekarang selalu sekelas denganmu saja nggak ngerti apa sisi bagusnya seorang Kim Myungsoo selain wajahmu yayang ya… aku akui cukup tampan. Tapi rambutmu yang berantakan itu sangat nggak mendukung!”
“Nggak ngerti apa nggak mau mengakui, huh?” ujar Myungsoo sambil tersenyum jail.
“Ckckck, jangan kepedean deh. Ah udah sampai, aku masuk dulu ya. Jangan lupa nanti malam nonton film di rumahku.”
Myungsoo mengacungkan kedua ibu jarinya sambil berjalan ke pintu rumahnya. _______ membalas dengan senyum dan juga berjalan menuju pintu rumahnya yang berada di seberang rumah Myungsoo.
=======#%&^^%%#%#=======
2 tahun kemudian
Saat itu pukul waktu menunjukan pukul 11 malam. Terlihat cahaya terang dari dalam ruang latihan di salah satu gedung di daerah Seoul. Di dalamnya terdapat 7 namja sedang berlating dance didampingi seorang choreographer yang duduk di belakang mereka. Mereka adalah Infinite, boygroup yang akan debut beberapa bulan lagi yang terdiri dari Kim Sunggyu, Jang Dongwoo, Nam Woohyun, Lee Howon, Lee Seungyeol, Kim Myungsoo, Dan Lee Sungjong. Setelah lagu mereka selesai sang choreographer itu pun berdiri sementara ketujuh namja itu duduk mengistirahatkan tubuhnya setelah ber jam-jam berlatih.
“Oke latihan hari ini selesai, kalian bisa pulang ke dorm. Besok kalian kuberi break. Manfaatkan waktu ini untuk menjernihkan pikiran kalian dan mengistirahatkan badan kalian agar saat debut nanti kalian bisa lebih segar atau sekedar bertemu orang tua. Kalian bisa mengambil ponsel kalian, aku akan meletakannya di sini,” ujar choreographer itu.
“Ne kamsahamnida,” jawab ketujuh namja itu.
“Baiklah saya pulang dulu ya,” choreographer itu pun membereskan barangnya serta mengeluarkan ponsel ketujuh namja tersebut yang di bawa oleh pihak manajemen agar mereka bisa fokus ke persiapan debut. Setelah selesai dia beranjak keluar ruangan sementara ketujuh namja itu berdiri dan membungkukkan badan. Setelah sang choreographer menghilang di balik pintu mereka kembali duduk.
“Omo~ akhirnya kita dapet break. Myungsoo aku mau minum,” ujar Sunggyu yang duduk di samping Myungsoo. Myungsoo yang memegang botol air mineral pun memberi air mineral itu kepada Sunggyu.
“Besok kita nggak ada schedule kan? You’re My Oppa masih lusa kan?” Tanya Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya suara nafas mereka yang masih tidak beraturan karena capek.
Myungsoo P.O.V
Dreeet dreeet’ terdengar suara ponsel yang bergetar di meja memecah keheningan malam. Aku yang paling dekat dengan meja pun reflek mengecek ponsel dan ternyata ponsel yang bergetar itu ponselku.
“Milikku,” ujarku kepada member lain sambil kembali duduk sementara yang lain berdiri mengambil ponsel mereka masng-masing untuk mengecek pesan atau yang lainnya. Ternyata ada 8 pesan masuk. Tetapi dari 8 pesan itu hanya ada 1 yang menurutku penting untuk dibalas. Pesan yang masuk sekitar 2 jam yang lalu.
From: Han ________ :))
Hei kepala batu! Apa besok kamu sibuk?
To: Han ________ :))
Tidak. Aku ada break besok. Wae? Bogopa(kangen)? 😛
            Kukira sahabatku dari kecil itu tidak akan membalas pesannya karena ini sudah larut malam. Tetapi ternyata 2 menit kemudian ada pesan masuk.
From: Han ________
Ne bogopa 😛 Apa kamu akan pulang? Ayo main!
            Aku reflek tersenyum mebaca pesan itu. Entah kenapa aku merasa senang. Ya mungkin namanya juga sahabat. Siapa sih yang nggak bahagia kalo sahabat sendiri ternyata kangen setelah nggak ketemu selama hampir setengah tahun?
            “Ya Myungsoo, kenapa kamu senyum-senyum sendiri. Aaaa pesan dari yeojachingu? Hahaha,” goda Seungyeol yang duduk di seberangku diikuti tawa kecil dari yang lainnya.
           
            “Aniya! Yeojachingu aniya! Eobseo.”
            “Geotjimal~ Baiklah bukan yeojachingu, tapi yeoja kan?” Sunggyu ikut menggoda Myungsoo.
            “Oke oke, yeoja.. tapi itu teman masa kecilku!” Aku membela diri.
            “Wa ini! Biasanya teman masa kecil itu..”  Seungyeol menghentikan kalimatnya dan malah tersenyum menggoda.
            “Falling in love~ hahaha” Woohyun menyelesaikan kalimat Seungyeol dengan nada setengah bernyayi.
            “Aaa molla! Terserah kalian mau bilang apa,” Aku memalingkan pandangan dari mereka semua, pura-pura marah. Member lain pun menanggapi dengan tertawa.
            ‘Dreeeeet.. Dreet..’ ponselku bergetar lagi.
            From: Han _______ :))
            Kepala batu! Kenapa kamu nggak bales?-..- Udah tidur?
            “Tuh kan gara-gara kalian aku jadi lupa balas pesan temanku!” gerutuku. Sunggyu yang duduk di sampingnya hanya tertawa kecil.
            To: Han ________ :))
            Mian tadi lagi ngobrol sama member lain jadi lupa bales, hehe. Iya mungkin aku bakal mampir rumah. Cuma 1 hari soalnya. Ayo! Aku jemput di rumahmu jam 9 ya?
            From: Han ________ :))
            Oke. Gidarilkke :))
            =======#%&^^%%#%#=======
            To: Han ________ :))
            Udah selesai? Gaja?
            From: Han ________ :))
            Ne, gaja! Aku akan turun :))
Myungsoo P.O.V -end-
Your P.O.V
            Aku pun turun setelah membalas pesan Myungsoo. Sudah hampir setengah tahun aku jarang bertemu dengannya. Sejak dia jadi ikut audisi di Woollim Entertaiment dan jadi trainee dia tinggal di dorm, kembali hanya saat event-event tertentu saja. Dan yah.. namanya juga trainee, hampir tidak ada waktu senggang. Bahkan pulang pun mungkin hanya seminggu sekali. Beberapa bulan grupnya yang bernama Infinite itu akan debut jadi dia benar-benar sibuk sekarang. Entah aku beruntung atau apa saat aku kirim pesan kepadanya dia ada waktu luang! Jadi kita memutuskan untuk jalan-jalan. Sebenarnya saat ini dia bilang sedang di tengah schedule shooting salah satu acara TV yang kalau tidak salah berjudul You Are My Oppa yang akan tayang tidak lama setelah Infinite debut. Dan hari ini adalah hari ulang tahun Myungsoo! Aku sudah merencanakan sesuatu untuk dia.
           
            “Eomma aku pergi dulu!” begitu aku membuka pintu Myungsoo sudah ada di atas motornya. Dia tersenyum melihatku. Aigoo~ aku suka melihat senyumnya. Entah kenapa akhir-akhir ini aku menyadari senyumnya itu.. manis. Dan hampir setengah tahun tidak bertemu dengannya membuatku.. lega? Bahagia? Apapapun itu yang penting aku merasa senang bisa bersamanay lagi. Walaupun hanya sehari. Ya sehari.
“Gaja?” ujar Myungsoo. Aku pun mengangguk dan segera naik.
Your P.O.V -end-
            “Uwaaa, rasanya udah lama banget sejak terakhir kali kita main di sini, dan ini pertama kalinya kita akan main seharian sejak kamu jadi trainee!” ujar ______ begitu mereka memasuki Lotte World. Myungsoo hanya menatap _______ sambil tersenyum geli yang dibalas dengan tatapan heran oleh _______.
            “Wae?” tanya Myungsoo.
            “Apa kamu sakit?”
            “Aniyo,” sekarang Myungsoo juga menatap ______ heran.
            “Jadi kenapa kamu cuma diem senyum nggak kayak biasanya kalo kita ke sini? Biasanya kan kamu langsung heboh sendiri langsung ngajak naik ini itu makan ini itu.”
            “Aaaaa itu! Itu.. Aku lagi latihan.”
            “Ha? Latihan? Latihan apaan?”
            “Aku pernah cerita kan name stage ku L? Nah kamu juga tau kan L itu gimana? Ya itu imageku! That’s why.”
            “Aaa arasseo.. Tapi kan hari ini kita bakalan bersenang-senang. Kapan lagi kamu ada break sementara debut mu tinggal beberapa bulan lagi? Ayo jadilah Kim Myungsoo untukku dan kita bersenang-senang! Kali ini aku yang pilih wahana duluan!” _______ menarik Myungsoo ke salah satu wahana lalu melanjutkan ke berbagai wahana lainnya untuk melepas stres. Matahari semakin meninggi mereka pun makan di salah satu foodcourt. Sembari makan siang mereka bernostalgia mengingat saat pertama kali mereka ke Lotte World, berbagai kejadian konyol yang terjadi saat itu. Mereka juga bercerita saat-saat dimana tidak bersama. Myungsoo bercerita tentang member Infinite. Tentang bagaimana Sunggyu yang berusaha jadi leader yang baik, Sungjong yang suka latihan girl group dance sembunyi-sembunyi, Dongwoo yang unik dan sering menaikkan mood para member, Hoya yang sangat jago dancing, Woohyun yang sering bertanya “Apa aneh kalo aku melakukan aegyo seperti ini untuk fans?”, dan Seongyeol yang choding tapi kalau serius dia akan serius kecuali untuk mencairkan suasana.
“Myungsoo, lihat ini!” Myungsoo yang tertinggal di belakang menuju ke tempat ________.
“Mweo?” tanya Myungsoo setelah sampai di tempat _______.
“Boneka beruang itu, neomu gwiyeopda(so cute)! Beberapa hari lalu aku sama Jieun ke sini dan aku coba ambil boneka itu tapi kami sama-sama gagal. Nggak nyangka bonekanya masih.”
“Mau aku coba ambilin?”
“Eung!” ______ menjawab dengan semangat.
“Tapi kamu yang beli koinnya aku cuma ambil, oke?”
“Yes Sir!” ________ pun segera ke counter untuk membeli koin sementara Myungsoo tersenyum geli melihat tingkahnya. Setelah kembali sambil membawa 4 keping koin Myungsoo mulai mencoba keberuntungannya untuk mendapatkan boneka itu. Percobaan pertama, gagal. Percobaan kedua, gagal. Percobaan ketiga, HAMPIR! Ah mereka sampai heboh sendiri karenanya. Sampai akhirnya tinggal ada 1 koin, 1 harapan. Dan… YAP! Kim Myungsoo beruntung! Pada kesempatan terakhir akhirnya Myungsoo mendapatkan boneka itu.
“Kyaaaa! Daebak! You got it! Gomawo Kim Myungsoo! ” ________ spontan memeluk Myungsoo lalu loncat-loncat kegirangan.
Myungsoo dan _______ melanjutkan permainan merekaMatahari pun mulai menurun sampai akhirnya tenggelam. Mereka pun menuju ke area Magic Island untuk melihat pesta kembang api.
Myungsoo P.O.V
            “Uwaaaa yeppeuda~ Neomu yeppeo,” ujar _______ takjub. Refleks aku melihat ke arahnya. Aku tersenyum sendiri melihat ekspresi takjub nya. Gwiyeopda~(cute) pikirku. Betapa bahagianya dia melihat kembang api seperti belum pernah melihat pesta kembang api. Apa karena hampir setengah tahun aku tidak bertemu dengannya? Rasanya bahagia melihatnya bahagia seperti itu. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir melihatnya tersenyum bahagia seperti itu. Yah setengah tahun cukup lama bagiku, aku akui rasanya lega bisa melihat senyum nya lagi. Bisa menghabiskan waktu bersama dengannya lagi. Aku bahagia. Neomu haengbokhae(sangat bahagia). Ya, aku tau, aku mengakui, aku Kim Myungsoo menyukai Han _______. Aku tahu itu, aku tahu itu sejak awal jadi trainee. Tapi apa boleh buat, aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku dan aku tidak mau menghancurkan persahabatan kita. Setidaknya untuk saat ini bisa terus bersamanya walau dalam friend zone sudah cukup. Apa lagi sebentar lagi aku debut. Aku tidak ingin menimbulkan masalah di awal karirku.
            “Myungsoo? Kim Myungsoo!” _______ mencubit pipiku dan membuatku tersadar dari lamunanku.
            “Ya ya ya! Apeo(sakit)! Wae wae?!” aku mengusap pipiku.
            “Berhenti tersenyum sendiri sambil terus menatapku seperti orang aneh.”
            “Ya! Siapa yang menatapmu!” aku mulai salah tingkah.
            “Aish, tidak mau mengakui. Bahkan kamu nggak sadar kan kembang apinya sudah selesai?”
            “Aa.. Jinjja?” Aku melihat ke arah Magic Catle dimana kembang api tadinya diluncurkan. Dan ternyata memang kembang apinya sudah tidak ada. Aku melihat sekitar dan ternyata orang-orang sudah mulai membubarkan diri.
            “Jam berapa ini? Omo~ udah jam setengah 7! Jibe gaja(ayo pulang ke rumah) Myungsoo-ah!” sebelum sempat kujawab _______ sudah menarik lenganku.
            Di perjalanan pulang _______ tertidur di pundakku. Aku tahu menyangga kepala orang selama hampir setengah jam itu pegal, tapi ya udah sih itu kebahagiaan tersendiri(?). Baru 5 menit sejak kita naik bus dan dia sudah tertidur, anak ini benar-benar. Ya baiklah dia terlalu semangat hari ini, entah kapan terakhir kali aku lihat dia sesemangat ini. Biasanya aku yang lebih semangat dari dia menggeretnya kesana kemari memilih permainan. Ah ya aku ingat sesuatu! Hari ini ulang tahunku! Aigoo kenapa bahkan aku sendiri bisa lupa ya? Padahal tadi pagi sebelum pergi Eomma, Appa, dan adikku mengucapkan selamat ulang tahun. Member Infinite dan beberapa temanku yang lain juga mengirimiku pesan. Tapi kenapa anak satu ini yang mengahbiskan waktu seharian dengaku sama sekali tidak menyinggung tentang ulang tahunku? Bahkan sekarang dia tertidur dengan nyenyaknya. Kecewa? Yah rasa kecewa itu pasti ada kan?
Myungsoo P.O.V -end-
            “Bye bye Kim Myungsoo!” ucap ______ sambil berjalan ke pintu rumahnya sementara Myungsoo melambaikan tangan dan menuju pintu rumahnya juga.
Myungsoo P.O.V
5 menit kemudian…
From: Han _______ :))
Ayo ketemu di taman jam 9. Ada yang mau aku omongin.
Umm? Ada apa ini? Baru aja pisah tiba-tiba mau ketemu lagi?
            To: Han _______ :))
            Okay. Wae guraeyo?
            From: Han _______ :))
            Pokoknya ada sesuatu.
Aaa.. Apa dia mau mengejutkanku karena hari ini hari ulang tahunku? Aigoo anak ini. Ah aku jadi kepikir! Apa nanti setelahnya akumengungkapkan perasaanku saja? Okay why not? Semoga ini tidak menghancurkan persahabatan kita! Tapi… kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain? Perasaanku tidak enak.
Myungsoo P.O.V -end-
            Seorang laki-laki duduk berayun pelan di ayunan sebuah taman dekat rumahnya, menunggu seseorang. Dia setengah melamun. Beberapa detik kemudian ia tersadar dari lamunannya dan melihat jam di ponselnya.
            “Jam 8.05, kenapa ______ belum muncul?” gumamnya, “baiklah mungkin mendadak tiba-tiba eommanya memintanya untuk melakukan sesuatu. Pasti sebentar lagi dia juga muncul. Pasti.”
            Tak lama kemudian dari belakang laki-laki itu muncul seorang gadis membawa sebuah cupcake dengan satu lilin di atasnya. Dia berjalan pelan dan hati-hati tanpa menimbulkan suara agar tidak di sadari laki-laki itu.
“Saengil chukhahamnida.. Saengil chukhahamnida.. Saranghaneun Kim Myungsoo.. Saengil chukhahamnida.. “ gadis itu mulai bernyanyi. Laki-laki yang ternyata Myungsoo itu menghentikan ayunannya dan menoleh ke arah gadis itu. Dia tersenyum sementara si gadis berdiri di sampingnya.
Mian sudah selarut ini baru ucapin selamat ulang tahun, tapi ini bagian dari rencanaku karena kita tadi jalan-jalan dulu. Ayo tiup lilinnya, jangan lupa buat permohonan,” pinta gadis itu. Myungsoo pun meniup lilin lalu cupcake itu diserahkan ke Myungsoo, “igeo(ini), aku buat sendiri lho.”
“Gomawo ______-ah~” ujar Myungsoo menerima cupcake sambil tersenyum ke gadis yang ternyata _______.
“Aah, satu lagi,” ______ mengambik sesuatu dari kantong celananya,”Ini hadiahmu.” _______ memberikan hadiahnya ke Myungsoo lalu duduk di ayunan sebelahnya.
“Ige mweoya? Gantungan ponsel?” tanya Myungsoo. _______ mengangguk.
“Kim.. Myung.. Soo,” gantungan ponsel itu dari flanel dan berupa tulisan 김명수 secara vertikal, “kau membuatnya sendiri?” lagi-lagi ______ hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Myungsoo yang kemudian menatap ke langit.
“Gomawo~” Myungsoo berterima kasih lagi tapi ______ hanya terdiam sambil menatap langit. Mereka berdua terdiam di tengah sepinya malam. Suara hewan malam dan gemerisik angin terdengar jelas. Sesekali suara klakson mobil dari kota terdengar.
“Myungsoo-ah~” tiba-tiba ______ mecah keheningan tapi tetap menatap langit.
“Eung?”
“Kapan ya kita bisa ngehabisin waktu bareng lagi?”
“Selama aku ada waktu luang, why not? Ya mungkin aku bakal sibuk habis debut promosi dan lain-lain. Tapi nggak mungkin selamanya sibuk kan? Aku pasti ngabarin deh kalau ada waktu.”
“Hajiman(tetapi)..” _______ menatap tanah sementara kakinya menggerakkan ayunan pelan maju mundur.
“Waeyo?” Myungsoo menatap ______ heran.
“Besok aku pindah..”
“Jadi pindah ke Busan?”
“Ani.. ke luar negeri. Appa ditugaskan ke luar negeri.”
Myungsoo P.O.V
“Ani.. ke luar negeri. Appa ditugaskan ke luar negeri.”
Mweoya? Ke luar negeri? Jadi aku nggak bisa ketemu dia lagi?! Aigoo~
“Aa… a.a.. jadi gitu,” jawabku setenang mungkin,”Eodi(Di mana)? Ilbon(Jepang)?”
“Ani.. Indonesia.”
Glek! Indonesia? Jauh, itu jauh banget.
“Berapa lama?”
“Molla~ 1 tahun? 2 tahun? 3 tahun? Aku kan hanya ikut Appa.”
“Eonje(kapan)?”
“Berangkat? Besok.”
“Besok ini?” tanyaku. _______ menjawab dengan anggukan. Aish aku tidak bisa mengantarnya ke bandara dan mengucapkan selamat tinggal.
“Gantungan ponsel itu,” ______ menunjuk gantungan ponsel yang kupegang, “sekaligus kenang-kenangan dariku. Jadi, awas ya jangan sampai hilang!” dia menatapku dengan tatapan setengah bercanda ‘kalau hilang kubunuh kau’. Aku hanya tersenyum melihatnya,”Ah dan jalan-jalan tadi juga hadiahku!”
“Kalau begitu boneka beruang yang tadi aku ambilkan untukmu, itu kenang-kenangan dariku. Okay?”
“Okay!” _______ mengacungkan ibu jarinya lalu menatap ke tanah lagi.
“Ya Han _______~”
“Wae?”
“Keep in touch okay?” aku menatapnya.
“Ya~ Tentu aja! We’re bestfriend, right? Lagi pula ada Kakao Talk. Kita tetep bisa ngobrol Kim Myungsoo-ssi~ Aigoo nggak usah seserius itu kayak kita nggak bakal ketemu lagi aja,” ______ tertawa melihat wajahku.
“Aa.. iya ya,” aku mengalihkan tatapanku ke tanah. Lalu aku teringat sesuatu,”ah iya. Mian, besok aku nggak bisa antar kamu ke bandara. Besok aku latihan dan shooting You’re My Oppa.”
“Gwaenchanha~” dia tersenyum. Itu mengingatkanku kemungkinan aku tidak akan bisa liat senyumnya lagi secara langsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Ah aku benci ini. Aku teringat rencanaku untuk menyatakan perasaan. Canceled. Aku mebatalkannya. Ya kalau dia juga menyukaiku dan nggak bakal muncul ‘awkward feeling’ dan nggak menghancurkan persahabatan kita. Aku tidak mau kita berpisah dan malah lost contact. Kalau dia masih di sini aku masih bisa bertemu dengannya. Kalau tidak? Tidak tidak, yang penting aku masih bisa ngobrol dengannya. Itu cukup.
Myungsoo P.O.V -end-
“Omo! Udah jam setengah 10!” _______ berdiri tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Myungsoo.
“Ah? Eo? Jinjja?” Myungsoo menjawab setengah tergagap.
“Eung! Baiklah jibe gaja!” ______ membalikkan badan bersiap untuk kembali ketika tiba-tiba Myungsoo memeluknya dari belakang.
“Goodbye, see you soon, I will miss you,” ucap Myungsoo dengan lembut. _______ yang tadinya kaget pun akhirnya tersenyum.
“I will miss you too, Kim Myungsoo.”

============================================================

Gimana nasib Myungsoo sama “you”? Menurut kalian mereka bakal ketemu lagi? Maunya ada lanjutannya apa enggak?*emang ada yang baca? XD* Just wait and see! 😀
Thanks for read ya readers^^ 

Whoever You Are Part 3

Part 1 | Part 2


Huaaaa ga terasa udah vakum 1 tahun lebih._. dan sekarang udah berfandom campur-campur.. –o- nulis WYA part 3 ini udah ngelewatin 2 periode(?). dari primadonna jadi hottest terus sekarang macem-macem mulai dari primadonna, hottest, A+, say A, dll. Lama banget ya.. mian ya lama vakum nya, kelas 9 kemaren kan aku UNAS. Aku juga ga ada ide buat lanjutan ceritanya. Nah sekarang lagi pengen lanjutin. Okay, check this out^^
><><><><><><><><>< 
(Tahun di majuin setahun, jadi tahun 2011 dan masih bulan Agustus)
CAST    :
·         Lee Hong Ki a.k.a Hong Ki FT Island
·         Song Seung Hyeon a.k.a Seung Hyeon FT Island
·         Choi Jong Hoon a.k.a Jong Hoon FT Island
·         Lee Jae Jin a.k.a Jae Jin FT Island
·         Choi Min Hwan a.k.a Min Hwan FT Island
·         Siti a.k.a TKW, new person in FT Island’s dorm
CAMEO:
·         Author a.k.a Han Hyo Ri, Min Hwan’s girlfriend
·         Lee Dong Hae a.k.a Hyo Ri’s brother (sebenernya anaknya sahabatnya papanya Hyo Ri  tapi dianggap kakak sama Hyo Ri saking deketnya mereka. Selain itu tiap papanya Hyo Ri ada tugas di luar kota atau luar negeri, papanya selalu nitipin Hyo Ri ke Dong Hae)
·         Sisanya cari sendiri yah. Tergantung imajinasi author sih  V._. pake nama asli kok 🙂
===========================================================================
Hongki P.o.V
“Daaa hyung!” Minhwan beserta Seunghyeon melambaikan tangan dengan semangat meninggalkan aku sendiri di depan rumah untuk berangkat ke sekolah bersama Wonbin.
“Aaaa, semua orang pergi. JONGHUN-AAAAH!” aku berlari ke dalam tapi tidak ada jawaban. Di dapur aku menemukan Siti sedang mencuci piring.
“Siti-ah, Jonghun di mana ya?”
“Ah , entahlah. Mandi mungkin?” jawab Siti tanpa menatapku dah tetap serius mencuci piring. Dan ITU membuatku geli. Kuperhatikan dia beberapa menit, dia tetap tidak menyadarinya. Aku pun tertawa geli.
“Ahaha, serius banget kamu cuci piring,” kataku sambil mendekatinya.
”Ah, hehe kamu masih di sini?”
“Yup,” aku pun mendekatinya, berniat membantu, “Hei, aku bantu ya.”
“Ah tidak perlu, ini kan mudah.”
“Ayolah, aku ingin bermain air,” rengekku sambil mencipratkan air ke wajahnya.
“Haha baiklah, kamu yang lap piring-piring ini ya.”
“Oke.”
Hongki P.o.V -end-
==================================================================
Author P.o.V
Di lantai bawah, terdengar suara Hongki dan Siti yang tertawa bersama sambil Hongki memancing Siti untuk bermain-main air. Dan yah akhirnya suasana pun krik-krik(baca: sepi) selama beberapa menit.
“Ehm, jadi.. kamu kuliah di mana waktu di negara asalmu?” Hongki membuka pembicaraan dengan canggung walaupun tadi sudah bercanda dengan Siti.
“Ah, aku tidak kuliah. Aku hanya sekolah sampai SMA, ehehe.”
“Oo? Really? Wae?” tanya Hongki dengan gaya bicara sok Inggrisnya yang khas.
“Umm, aku nggak punya biaya buat bayar uang kuliah,” jawab Siti dengan agak pelan dan nada yang agak sedih.
“Ah maaf..” Hongki memasang wajah sedih, tapi lalu dia mendongak dengan ekspresi bahagia kayak habis dapet hidayah(?), “Siti-ah! Gimana kalo kamu kuliah di Korea?!”
“Ne? Ah itu tidak mungkin. Di Indonesia aja udah susah gimana mau di Korea, oppa ada-ada aja deh, hahaha,” Siti tertawa ringan. Tetapi ada nada pengharapan di kata-katanya tadi.
“Aku serius Siti! Aku bakal kasih kamu semacam beasiswa gitu lah. Itung itung bonus buat kamu. Kalo kamu setuju aku bakal omongin ini ke manajerku sama member lain,” kata-katanya sangat serius sampai membuat Siti bergidik.
“Eh? Jeongmalyo?”
“Yeah, of course my dear,” Hongki tersenyum manis.
Author P.o.V -end-
==========================================================================
Jonghun P.o.V
“Ah benar-benar menyegarkan!” Aku keluar dari kamar mandi kayak iklan shampo-sabun cair dan efek asap-asap ngepul dari kamar mandi.*ini habis mandi apa mbakar sampah sambil hujan-hujanan sih-___-“*
“Ah, kenapa sepi sekali, Minhwan sama Seunghyeon pasti udah berangkat. Tapi.. kenpa berasa sepinya lebay ya.”
Aku segera berpakaian dan keluar. Maklum kamarku lantai atas jadi lebih terasa sepi dari lantai bawah. Begitu sampai di tangga bawah Jonghun mendengar suara gemericik air. Awalnya aku mengira itu suara dari kamar mandi Minhwan dan Seunghyeon. Suara bisikan-bisikan pelan pun mulai terdengar sampai aku merinding. Tetapi begitu sampai di depan dapur suara itu terdengar semakin jelas. Dan ternyata itu suara Siti dan Hongki yang sedang mencuci piring sambil mengobrol. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi itu terdengar serius sekali. Namun tiba-tiba suara pembicaraan mereka berubah serius dan semakin pelan. Setelah kudengar Hongki mengatakan “Yeah, of course my dear,” piring yang dipegangnya jatuh ke bak cuci piring. Reflek aku menghampiri mereka.
“YA WAE?” Aku menangkap Siti yang hampir saja jatuh tepat dipinggang kanannya. Dan aku merasakan sesuatu yang hangat dan mengalir pelan di sana.
“Hongki apa..” Dan otakku pun mulai merasakan kejanggalan. DARAH, itulah yang kupegang.
“Hong.. Hongki.. Apa kamu..”
JLEB! Aku mulai merasakan pedih di perut kananku. Sesuatu yang hangat keluar dari sana. Lagi-lagi DARAH. Aku pun mengadah dan dengan pandangan yang mulai pudar aku melihat wajah Hongki tersenyum licik. Benar-benar bukan seperti Hongki yang selama ini kulihat.
“Hongki-ah, apa yang kau..” aku tidak kuat lagi untuk mengatakan apapun. Aku terjatuh bersama Siti. Perlahan tapi pasti mataku tertutup dan kata terakhir yang kudengar hanyalah, “Selamat tinggak hyung, aku dan yang lain pasti akan menyusulmu dan Siti.” Lalu…
“DEG”, kubuka mataku. Kudapati jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan aku tidur terlentang di atas tempat tidur dengan masih menggunakan boxer dan bertelanjang dada.
“Ugh, apa aku bermimpi?” Segera aku bepakaian dan turun. Kudapati alur yang berlangsung saat ini adalah alur yang sama dengan mimpiku. Bulu kudukku mulai berdiri. Sekilas perasaan ingin kabur mengahampiriku. Tetapi tersingkirkan oleh perasaan penasaran tentang apa yang akan terjadi di dapur. SEMUANYA sama seperti apa yang ada dimimpiku barusan. Aku mulai khawatir apa yang akan terjadi nanti sampai nada bicara mereka mulai serius dan Hongki mengatakan “Yes, of course”. Piring yang dipegang Siti terjatuh ke bak piring dan reflek aku berteriak.
“ANDWEEEEEEE!” Siti hampir membungkuk 90o saat aku berteriak. Dengan serentak mereka menoleh ke arahku. Aku hanya bisa melongo menahan mau melihatnya.
“YA HYUNG WAE?! Ada yang salah kah dengan otakmu sampai kau teriak ‘andwe’ dengan tiba-tiba. Kau tahu? Mungkin beberapa menit lagi tetangga akan datang ke sini untuk protes!” seru Hongki sementara Siti melanjutkan cuci piring.
“Hei! Nggak usah lebay gitu juga kalik! Aku teriak bukan tanpa alasan! Ah tapi untung saja tidak terjadi apa-apa, kalian membuatku ketakutan setengah mati! Terutama kau Hongki.”
“Ketakutan setengah mati? Memang apa yang kami lakukan? Kami hanya mencuci piring bersama. Dan yang kulakukan, tentu hanya membantunya. Oke, aku mengerjai dia sedikit sambil bermain air. Tapi apa yang akan ku kulakukan padanya? Membunuhnya?! Huh!” Hongki kembali melanjutkan mengelap piring.
“Uh, ya mungkin? Itu memang yang kukhawatirkan..” Hongki mengehentikan aktivitasnya dan berjalan ke arahku. Dia berhenti di depanku, mengamatiku beberapa detik dan memegang dahi ku dengan tangannya.
“Umm, tidak panas. Apa kau merasa sakit?”
“YA! Aku baik-baik saja! Aku hanya bermimpi mengenai itu! Dan apa yang terjadi selama beberapa menit tadi sama seperti dimimpiku. Tidak ada salahnya kan aku khawatir!” kulepas tangannya dari dahiku.
“Pp.. pp. PPUAHAHAHAHAHA! BABO! JONGHUN BABO! Kenapa kau percaya saja mimpi seperti itu! BUAHAHAHAHAHA! Ah perutku, HAHAHAHAHA” Hongki tertawa sampai memegang perutnya.
“YA! DIAM!” panas, itu yang kurasakan, sepertinya mukaku memerah.
“GLODAK!” terdengar suara keras dari bawah kami. Hongki berhenti tertawa.
“Hei, suara apa itu?” tanya Siti yang baru saja selesai mencuci piring terakhir.
“Entahlah..” Jawabku was-was.
“Hyung, apakah itu.. Suara itu sepertinya dari..”
“Lantai bawah tanah,” kataku dan Hongki serempak dengan nada yang sama-sama was-was.
Jonghun P.o.V -end-
===========================================================================
Ada apa dengan lantai bawah tanah? Kenapa Jonghun dan Hongki was-was saat menyadari suara itu dari lantai bawah tanah? Tunggu kisah selanjutnya ya…
YEAH! Akhirnya selesau juga yang part 3! Kalian tahu? Selesainya ini dalam sehari lho XD waktu lagi iseng nglanjutin, wkwkwk. Oke! Tunggu ya part selanjutnya 😀 ini tadinya mau rada romance gitu tapi malah jadi horror thriller misteri deh kayaknya. Pokoknya tunggu aja kelanjutannya, keep waiting. Sekian and 감사합니다^^
@Dday110

If A Chicken Lover Lost His Fried Chicken

Ah, udah lamaaaaa banget nggak posting ff. FFku yang whoever you are aja belum kelanjut sampe sekarang. padahal udah setaun lebih. Omona~ -o-
nah sekarang akhirnya aku posting ff lagi 😀 check this out, hope u’ll like this^^


Title      : If A Chicken Lover Lost His Fried Chicken

Rating   : General

Type     : Oneshot

Genre   : (maunya sih)Comedy

Cast      : 2PM
Author  : chocolatecakewoo

Monday, 11.37 AM – 2PM’s Dorm

                Wooyoung berjalan gontai ke arah Junsu yang terlihat sedang sibuk. Dia duduk di samping Junsu.

                “1Hyung~”

                “2Eung?”

                “Hyung lagi ngapain?”

                “Bikin lagu”

…….zing~ krik krik..

                “Hyung~”

                “Eung”

                “Aku bosan hyung. I’m bored~”*WY ceritanya baru bisa bhs inggris. Jadi nggaya gitu ngomongnya pk english*

                “Um”

                “Apa yang harus aku lakukan?”

                “3Molla”

                “Ah hyung~”

                “Ah sudah pergi sana main dengan ppiyak –ayamnya Wooyoung– mu itu aja. Lagi sibuk buat lagu nih!” Junsu menaikkan suaranya, setengah menggertak.

                “Eung~”

                Wooyoung pun pergi. Kali ini dia mencari Taecyeon. Tetapi dia tidak menemukan Taec di sudut manapun. Wooyoung baru ingat Taec sedang pergi ke gym bersama Nichkhun. Wooyoung pun pergi ke ruang keluarga. Di sana ada Junho dan sang maknae, Chansung yang lagi asik main donal bebek( taukan? Permainan yang injek-injekkan tu lho~). Waktu itu mereka lagi asik-asiknya main. Waktu Chan lagi acang-ancang buat injek kakinya Junho…

                 “WOOOOOI!” Woo teriak keras banget di deketnya Chan sampai Chan yang tadinya mau injek kakinya Junho malah jadi injek mukanya kakinya Wooyoung.

                “AAAAAW! YA BABO %$((&#(^(*@&*#($^%$!” Wooyoung marah-marah sendiri pake bahasa planet Udong yang sama sekali nggak dimengerti sama kedua maknae 2PM itu sehingga mereka hanya bengong sambil kedip-kedip sekali dua kali. Sadar pada bengong Wooyoung langsung sok nggak terjadi apa-apa.

“Apa?” Wooyoung sok menghardik kedua dongsaengnya itu.

“Hyung-ah, harusnya kami yang tanya ‘apa?'”, jawab Chansung setelah dia dan Junho sadar dari kebengongan(?) mereka.

“Ah,4 jinjja? Ehehe, 5mian” Wooyoung senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala.(author: woo-ah! Kamu nggak kutuan kaaan?! #abaikan)

“Ah kamu ngganggu aku sama Chan lagi main tau nggak. Ada apaan sih?” tanya Junho sedikit kesal.

“Mianhae.. Aku kan udah minta maaf-3- Junho-ah, aku bosan. Eh sekarang laper ding.”

“Huh, teruus?”

” Chansung-ah… 6Mokja! 7Baegopha~” Wooyoung mengajak Chansung makan dengan gaya aegyo nya. Tapi Junho malah memegang jidatnya.

“Eung?” Wooyoung bingung sok imut tapi hasilnya emang imut #eaaa.

“Ada apa denganmu yang sok cool itu? Kenapa tiba-tiba kamu jadi sok gwiyeowo –cute–?” Junho melepaskan tangannya dari jidat Wooyoung dan mencubit pipinya.

“Hyung?” untuk pertama kalinya sejak debut, Junho memanggil Wooyoung dengan panggilan “Hyung” *standing applause*

Readesr juga pasti penasaran dong kenapa Wooyoung yang biasanya cool gimana gitu d belakang kamera(ngaco) itu jadi sok cute?#author sok tau

Jadi sebenernya kemareeen itu…

Sunday 10.49 PM  – 2PM’s Dorm

“Hyung~”

Wooyoung memanggil Nichkhun pelan, tepat di telinga Nichkhun saat dia sedang liyer-liyer hampir tidur-di sofa depan tv. Tubuh Nichkhun pun merinding dan membuatnya terbangun.

“Eung?”

Nichkhun menggeliat pelan. Karena tidak dijawab, dia pun membuka matanya pelan. Dia tidak melihat siapapun. Saat akan menoleh, muncul sebuah(?) kepala. Kepalanya Wooyoung.

“YA! Woodong kamu ngagetin aku!” Nichkhun mengubah posisinya jadi duduk.

“Mian~ nggak biasanya hyung tidur jam segini,” Wooyoung duduk di samping Nichkhun.

“Aku benar-benar capek minggu ini kita sangat menguras tenaga. Ada apa?” Nichkhun berbicara dengan bahasa yang formal. Membuat Wooyoung tersenyum.

“Hyung. Berhenti pakai bahasa formal padaku. Ak ini  8dongsaengmu~ Umm hyung belum makan kan? Baegopa-lapar-?”

“Iyadeh cerewet-3-” Nichkhun menjitak Wooyoung pelan.

“YA!” Wooyoung mengerang.

“Tentu ak lapar woodong-ah~ Tapi apa kita ada makanan? Taecyeon dan Junho masih ada job. Junsu sibuk di kamarnya.  9Uri maknae yang biasanya punya makanan banyak baru aja berangkat nge-gym”

“Ya, babo. Ayo beli di luar.”

“Uwaa, ddeokddeokhaepintar! Ayo!”

Mereka pun memutuskan beli ayam. Tapi mereka baru inget hari ini hari ayam sedunia! Di hari ayam bakalan susah banget yang namanya cari orang jual ayam dalam bentuk apapun. Tapi karena si Wooyoung udah sebulan lebih seminggu dan sehari nggak makan ayam, dia mau makan ayam sampe kayak ibu kehilangan anaknya*loh. Of course, seorang Nichkhun yang bak malaikat penolong(?) itu nggak tega ngeliatnya. Mereka pun muter-muter sampe akhirnya nemuin kedai yang jual ayam goreng.

“Hyung! Di sana ada yang jual!” Wooyoung nunjuk ke sebuah kedai terpencil yang jual ayam goreng dengan wajah berbinar-binar tapi unyu-unyu-cool gimanaaa gitu#apadeh.

“Eung. Ayo ke sana. Semoga masih ada ayam gorengnya. 10Gaja!”

Wooyoung segera memesan ayam yang ternyata memang tinggal 2 dan tinggal kedai itu yang jual ayam goreng. Mereka memutuskan untuk makan di taman. Tapi karena keburu laper Nichkhun menghabiskan ayamnya sebelum sampai taman. Wooyoung entah kenapa kayak orang ngidam makan ayam di taman, dia benar-benar tidak makan ayamnya sedikitpun sebelum sampai taman.

“Yay akhirnya kita sampai taman! :D” Wooyoung segera duduk di kursi taman sambil menjulurkan bungkus ayamnya tepat di depannya.

“Wooyoung-ah, hati-hati. Ingat biasany di hari ayam banyak pen..”

Belum selesai Nichkhun berkata “pencuri ayam”, bungkus ayam di tangan Wooyoung sudah lenyap. Wooyoung yang shock hanya diam seperti patung.

“Oops, terlambat.. Wooyoung-ah.. 9Gwaenchanha?” Nichkhun melambaikan tangannya tepat di depan wajah Wooyoung. Beberapa detik kemudian Wooyoung pun berdiri.

“Ayo pulang. Gaja,” dia berkata dengan datar.

Sampainya di rumah Wooyoung langsung masuk kamarnya dan menutup pintu. Dia tertidur sampai esok harinya dan ditemukan(?) dalam keadaan setengah ngeror.

The End

Gimanagimanagimana readers? Terhibur? Semoga deh ya. Geje? Pasti. Ancur? Semoga nggak-o-

Ini ada sedikit notes buat kata-kata dalam bahasa korea yang ada di ff ini.

1.       Hyung(형) : Panggilan kakak dari laki-laki ke laki-laki yang lebih tua.

2.       Eung(응)  : Ya (Informal)

3.       Molla(몰라): Tidak tahu

4.       Jinjja(진짜): Really

5.       Mian(미안): Maaf

6.       Mokja(목자): Ayo makan

7.       Baegopha(배고파): Laper

8.       Dongsaeng(동생): Adik, orang yang lebih muda

9.       Uri maknae(우리 막내): Yang paling muda

10.   Gaja(가자): Let’s go

That’s all. Thanks for reading guys 😀 kasih komen ya~ #maksa :p

Remember (Prolog)

Title : Remember (Prolog)
Cast :
• You as Ellen Watson (1994)
• Wooyoung 2PM as Clarence Chamberlain (1991)
• Nickhun 2PM as Kevin Watson (1990)
• Minhwan FT Island as Cho Minhwan (1992)
• IU as Lee Ji Eun (1994)

France, 1999
“Hei, aku nemu sesuatu!”, teriak seorang anak laki-laki.

“Apa?” seorang anak perempuan menghampirinya.

“Aku nemu dua gelang nih,” dia menunjukkan gelang itu kepada anak perempuan tadi.

“Waa, it’s really beautiful,” pujinya.

“Ellen!Ellen!Ayo berangkat!” teriak seorang wanita dari dalam rumah kepada anak perempuan yang ternyata bernama Ellen.

“Aku harus berangkat sekarang. Bagaimana ini? Aku takut di Korea nggak punya temen,” ucap Ellen dengan sedih.

“Jangan takut temenmu pasti banyak, kamu kan baik,” anak laki-laki tadi tersenyum.

“Terus kalo kita nggak bisa main bareng lagi gimana?”

“Pasti kita ketemu lagi deh. Kalo aku udah gede, aku bakal ke Korea terus kita main deh.”

“Beneran?”

“Bener.”

“Janji?” Ellen mengacungkan jari kelingkingnya.

“Janji,” anak laki-laki itu mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Ellen.

“Ellen!” sekali lagi nama Ellen dipanggil.

“Bentar Ma!” wanita itu ternyata adalah mamanya.

“Ellen, gelang ini kan kembar, yang satu buat kamu dan yang satunya lagi buat kamu. Kita harus selalu pakai gelang ini sampai gede,” anak laki-laki tadi memakaikan salah satu gelang temuannya ke pergelangan tangan Ellen. Ellen yang masih tidak mengerti hanya bisa menatap heran. Melihat ekspresi Ellen anak laki-laki itupun tersenyum dan berkata,

“Biar kita bisa tepatin janji kita. Kalo kita ketemu kan kita bisa inget. Iya ga?”

“Ooo, iya juga ya.. Emm, sekarang aku berangkat dulu ya. Jangan lupa ketemu sama aku kalo kita udah gede. Daaaah” Ellen melambaikan tangannya sambil berlari menuju mobil.

10 tahun kemudian…

Seorang cowok foreign yang tinggi dan tampan terlihat kebingungan mencari sesuatu di daerah Busan, Korea Selatan. Setelah berjalan agak lama, dia berhenti di depan sebuah gedung apartemen dan masuk ke sana. Dia memasuki salah satu ruang apartemen, menaruh barang-barangnya di sana dan segera keluar. Ternyata dia menuju ruang apartemen yang berada tepat di samping ruangnya. Dengan ragu dia mengetuk pitu apartemen itu. Tidak ada jawaban. Sekali lagi dia mengetuk, namun tidak ada jawaban. Mungkin dia mengetuk terlalu pelan. Saat dia akan mengetuk lagi tiba-tiba pintu terbuka. Di hadapannya berdiri seorang cewek yang sedikit lebih muda darinya. Cowok itu tersenyum sementara cewek yang membukakan pintu menatapnya dengan ekspresi bingung.

-PROLOG end-

Hah, akhirnya jadi juga prolog fanficku yang udah aku buat sejakberatus-ratus tahun yang lalubulan lalu. Padahl juga cuma dikit, jadinya lama amat ya-_-sampe wooyoung rambutnya putih semua.
Ah yang penting sekarang prolog fanfictionku udah selesai 😀
Penasaran sama lanjutannya?emang ada yang baca? tungguin aja Remember(ONESHOOT)! Oke? 😉

Makasih buat yang dah baca. Jeongmal gamsahamnida. 정말 감사합니다~ でもありがとう~
Don’t forget to leave your comments. Okay? 😀

TOMORROW IS THE DAY!!!!!!!!

Habis posting gambarku tadi (yearbook), aku baru keinget sesuatu
Sesuatu yang penting
Benar..benar..penting…*sok horor*
Tomorrow…
Is..
The day…
Besok..
PENGUMUMAN UNAS SMP!!!!!!!!!
Haduh, deg-deg an, takut, khawatir, tapi biasa aja! (?)
Nah, postinganku kali ini fanfic, tapi masih ada hubungannya sama TOMORROW IS THE DAY
Itung-itung buat hiburan(?)
Ini ceritanya percakapan aku-wooyoung lewat twitter deh.Kita kan adik-kakak*ngarep. Aku bakal bikin original version, Indonesian version(biar gampang di translate), sama mixed version(?)
Original version
Woo: @eptmxk woy nduk! Piye kabarmu? Sesuk pengumuman yo?
Me: woy mas! Kabarku apik, piye kowe? Iyo ki, haduh deg-deg an aku mas T.T RT @NBA0430: @eptmxk woy nduk! Piye kabarmu? Sesuk pengumuman yo?
Woo: aku yo apik apik wae. Ah wis tenang wae, bijimu pasti apik. Nek apik tak tukokake LG Chick LU350 wis RT @eptmxk: Woy mas! Kabarku apik, piye kowe? Iyo ki, haduh deg-deg an aku mas T.T RT
Me: tenan mas? Lha nek elek piye no? Di tukokke ra? :p RT @NBA0430: aku yo apik apik wae. Ah wis tenang wae, bijimu pasti apik. Nek apik tak tukokake LG Chick LU350 wis RT
Woo: lha geleme piye? :p RT @eptmxk mas? Lha nek elek piye no? Di tukokke ra? :p RT
Me: J ehehe… RT @NBA0430: lha geleme piye? :p RT
Woo: weelah malah ngguyu ki piye to? RT @eptmxk: J ehehe… RT
Me: mas…zzzz RT @NBA0430: weelah malah ngguyu ki piye to? RT
Woo:haha, iyo iyo. reti aku karepmu V^^ RT @eptmxk: mas…zzzz RT
Me: haha, ngono no. Nuwun mas!^^ RT @NBA0430: haha, iyo iyo. reti aku karepmu V^^ RT
Woo:iyo,sip. Podho-podho RT @eptmxk: haha, ngono no. Nuwun mas!^^ RT
Indonesian version(read this if you wanna translate)
Woo: @eptmxk Hai~ gimana kabarmu? Besok pengumuman ya?
Me: Hai juga kak. Kabarku baik nih, kamu? Iya, aku deg-deg an nihT.T RT @NBA0430: eptmxk Hai~ gimana kabarmu? Besok pengumuman ya?
Woo: aku juga baik kok. Tenang aja, nilaimu pasti bagus. Kalu bagus aku bakal beliin LG Chick LU350 deh RT @eptmxk: Hai juga kak. Kabarku baik nih, kamu? Iya, aku deg-deg an nih T.T RT
Me: Beneran? Kalau jelek gimana dong? Dibeliin juga nggak? :p RT @NBA0430: aku juga baik kok. Tenang aja, nilaimu pasti bagus. Kalu bagus aku bakal beliin LG Chick LU350 deh RT
Woo: Lha maunya gimana? :p RT @eptmxk: Beneran? Kalau jelek gimana dong? Dibeliin juga nggak? :p RT
Me: J ehehe… RT @NBA0430: Lha maunya gimana? :p RT
Woo: lho kok malah ketawa tu gimana? RT @eptmxk: J ehehe… RT
Me: kak…zzzz RT @NBA0430: lho kok malah ketawa tu gimana? RT
Woo:haha, iya deh, iya. Aku tau maksudmu V^^ RT @eptmxk: kak…zzzz RT
Me: haha, gitu dong. Makasih kak!^^ RT @NBA0430: haha, iya deh, iya. Aku tau maksudmu V^^ RT
Woo:iyo,sip. Sama-sama RT @eptmxk: haha, gitu dong. Makasih kak!^^ RT
Gimana?aneh kah-_-
Visitor: iya sumpah deh booo aneh banget gila!*lempar sepatu*
Ckckck nggak bisa bayangin woo ngetweet pake bahasa jawa! Apa lagi ngomong. Tapi mungkinkah? o.O PAKSA!
Hah segini dulu deh :p
(once again) Eh besok eh gimana eh!*ngapain sih

Whoever You Are part 2

Hiah, fanfic yang part 1 ada kesalahan nih.(=,=). Maklum ngepostnya buru-buru. Dan sekali lagi mian bagi yang ngerasa part 1 kepanjangan>.<! Tadinya mau di jadiin 2 part, tapi kalo 1 part 1 P.o.V rasanya aneh aja gituh. Ya udah, tah jadiin satu deh.
Whoever you are ini fanfic keduaku(pemula =P, fanfic pertama dibuat dengan ketidak sengajaan). Di sini ada tambahan yang kemaren lupa di tambahin. (masak kakak adik marganya beda=>bodoh) . Dan ralat, Min Hwan sama Seung Hyeon dari 18th mau 19th, yang Seung Hyeon ultahnya bukan beberapa bulan lagi tapi beberapa hari. Yasud, selamat baca part 2 nya =D
><><><><><><><><>< 
(Tahun di majuin setahun, jadi tahun 2011 dan masih bulan Agustus)
CAST    :
·        Lee Hong Ki a.k.a Hong Ki FT Island
·        Song Seung Hyeon a.k.a Seung Hyeon FT Island
·        Choi Jong Hoon a.k.a Jong Hoon FT Island
·        Lee Jae Jin a.k.a Jae Jin FT Island
·        Choi Min Hwan a.k.a Min Hwan FT Island
·        Siti a.k.a TKW, new person in FT Island
CAMEO:
·        Author a.k.a Han Hyo Ri, Min Hwan’s girlfriend
·        Lee Dong Hae a.k.a Hyo Ri’s brother (sebenernya anaknya sahabatnya papanya Hyo Ri  tapi dianggap kakak sama Hyo Ri saking deketnya mereka. Selain itu tiap papanya Hyo Ri ada tugas di luar kota atau luar negeri, papanya selalu nitipin Hyo Ri ke Dong Hae)
===========================================================================
16 Agustus 2011
————————————————————————————————————————-
Jong Hoon P.o.V
“Hosh, hosh, Hong Ki..” kataku sambil tiduran di kasur. Aku terlalu lelah berlari.
“Hosh, mwo?” Hong Ki sama sepertiku. Tadi kami berlari bersama gara-gara terlalu panik.
“Aku..ca..pek..” kataku terbata bata karena masih ngos-ngosan.
“Iyalah..nama..nya..ju..ga..lari..lari..panik..la..gi” Hong Ki juga sepertinya masih belum bisa mengatur nafas.
Kami diam sejenak untuk mengatur nafas. Ruangan menjadi sepi. Yang terdengar hanya hembusan nafas kami yang masih belum teratur. Beberapa menit kemudian, nafas kami kembali teratur.
“Ah, kenapa kita begitu bodoh!” kata Hong Ki membuka pembicaraan.
“Ah, tidak juga. Kita tidak bodoh, kita hanya terlalu panik.”
“Ah, benar juga. Gara-gara si bocah ayam nih!” Hong Ki ngomel-ngomel.
“Uwo? Si bocah ayam? Nama baru untuk si maknae nih. Si bocah ayam…”
“Habis dia ayamholic terus…dia teriak ayam kenceng banget..terus bikin kita panik..terus..terus..terus apa lagi ya?”Hong Ki garuk-garuk kepala.  Ah, mulai deh Hong Ki(-_-“)
“Terus aja nyampe nabrak tembok, jeduar!” kataku sambil bergaya kayak orang nabrak tembok.
“Hah, bodoh kamu Jong Hoon! Kapan juga kita nabrak tembok,” gerutu Hong Ki. Ah tetap saja dia bodoh. Dia jahat pada para dongsaeng tapi dia bodoh. Mending aku ya, udah leader, ganteng, bisa main gitar sama piano, baik hati tidak sombong, rajin menabung, daaan….
/plak! (Di jitak author)
-terjadilah percakapan geje antara Jong Hoon dan author, Hong Ki Cuma bisa bengong ngeliatin-
————————————————————————————————————————–
“ Aduh! Apaan sih author tiba-tiba muncul terus main jitak aja!” gerutuku.
Nggak usah narsis di ff gue deh, udah untung gue masukin di ni ff, eh ini malah narsis nggak jelas!” author marah-marah(author jadi gede, Jong Hoon jadi kecil. Kayak di komik-komik tuh lho).
“ Mi…mi…mi…mian….” aku berkata-terbata-bata. TAKUT!
“ MIAN, MIAN! CEPET LANJUTIN NIH CERITA. SERIUS SERIUS! MANA EKSPPRESINYA?!”
“ Mana ekspresinya? Kok kayaknya nggak nyambung ya?”
“ Mwo? Iya po? Ah biarin yang penting LANJUTIN CERITANYAAAA!”
“ I…i…i..ya.. “ (Jong Hoon jadi kecil banget, mojok di sudut kamar mau nangis-komikmode:on-)
“ Oke,” author balik, jalan ke tempat Hong Ki. Hong Ki ketakutan, “Hong Ki-ah”
“ Mwo? Jangan marahi aku!! Andwe!Andwe! Aku nggak salah apa-apa! Huhuhu,” Hong Ki ketakutan, mau nangis, mohon sampai guling-guling. Trus jongkok di depan author dengan muka melas (dashikomikmode:on-matanya jadi gedhe berkaca-kaca-). Aku pengen ketawa ngeliatnya, kalo ngakak ntar di marahin author lagi. Takut takut!>.<
“ Hong Ki-ah, gwaenchana?” kata author trus jongkok di depan Hong Ki. Raut mukanya berubah lembut. Hong Ki ngeliatin dengan muka heran “ aku tidak akan memarahimu oppa! Cuma mau bilang FIGHTING!” kata author sambil meluk Hong Ki dengan gaya MishamelukKotaromode:on(komik pita-ten). Lalu dia berjalan keluar menuju pintu kamar.
Aku dan Hong Ki hanya bisa terbengong melihat kejadian itu. ‘Dasar author aneh’ pikirku.
Author itu berbalik dan manatap kearahku. ‘Deg’ jangan-jangan dia mau memarahiku lagi! Tetapi ternyata dia hanya memandangiku(fyuh..), lalu dia beralih ke Hong Ki. Raut wajahnya berubah seketika. Dia tersenyum dan berkata, “annyeonghi kaseyo oppa”.
“Annyeonghi kyeoseyo,” jawab Hong ki dengan raut wajah dan perasaan yang masih bingung.
Dia kembali menatapku dengan tatapan yang seolah-olah berkata ‘aku mengawasimu!’.
“ Oke semua, lanjut ke cerita!” kata author itu lalu ngilang gitu aja.
“ Author aneh” kataku.
“ Author mengerikan…” kata Hong Ki.
“ Ganas..” kataku lagi.
Tiba-tiba author muncul lagi dari balik pintu. Aku sama Hong Ki diem. Lalu dia berkata dengan datar, “balik ke cerita oy!”.
Aku dan Hong Ki hanya berpandangan lalu berdiri dan menuruti perintah author. Ndak nanti di marahin (T.T)
“ Ah sampai mana sih tadi?’ tanya Kong Ki.
“ Sampai kamu bilang aku bodoh kan?” aku berusaha mengingat.
“Ah eung. Hana, dul, set, and ACTION!”(jadi kayak main film apa sinetron sih -_-“)
————————————————————————————————————————–
-back to the story-
“Kamu yang bodoh. Coba deh kalau kamu lagi pake baju kayak tukang parkir pas ada yang mau ngeluarin mobil, dan yang ngeluarin mobil itu cuma bisa ngandalin arahan tukang parkir buat ngeluarin mobil terus ngira kamu tukang parkir gara-gara bilang terus…terus… .kan kalo kamu keterusan bilang terus…terus..lama-lama tu orang nabrak. Iya nggak?” jelasku panjang lebar.
“Ah iya juga ya, kamu pinter..” pikir Hong Ki.
“ Haha, Jong Hoon gituh,” kataku membanggakan diri. Nggak berani ngomong macam-macam nih, nanti diamuk author lagi.
“ Jong Hoon hebat… Choigoya! Emang pantes deh jadi leader!” Hong Ki menepuk-nepuk pundakku sambil senyum-senyum.(author: hyeong-hyeong yang bodoh-_-“)
“ Haha. Udah ah, aku balik ke kamar ya. Mau mandi terus berangkat kuliah,” kataku sambil berjalan ke pintu, diikuti Hong Ki.
“ Eung, aku juga mau mandi terus siap-siap kuliah. Yang nganter kuliah Min Hwan sama Seung Hyeon kamu kan?” tanya Hong Ki. (Min Hwan sama Seung Hyeon masih 18 tahun, dibawah umur).
“ Uwo? Aniyo! Bukannya Won Bin mau dateng ya? “
“ Oh iya! Aku lupa. Oke, annyeong,”
“Annyeong,” aku berbalik kembali ke kamar.
Jong Hoon P.o.V –end-
===========================================================================
Seung Hyeon P.o.V
“ Hyeong, bangun. Bangunlah…apa kamu nggak kuliah? “ seseorang membangunkanku.
“ Mwo?” kataku sambil membuka mata perlahan. Ngantuk banget nih, semalem main game sama Jae Jin hyeong. Mana Cuma menang 2 kali, ah benar-benar menyebalkan!
“ Hyeong.. Cepat bangun dan mandi! Kalau tidak aku dan Won Bin hyeong akan meninggalkanmu!” ujar orang itu lagi.
Aku menggeliat dan duduk, melihat ke orang itu. Ah, ternyata Min Hwan. Dia sudah berpakaian rapi.
“ Mwo? Ayolah cepat! Nanti kasian Won Bin hyeong kalo dia sampai sini kamu belum siap!” Min Hwan menggeretku. Aku ngikut dengan lemesnya. Ah, tapi tetep aja dia bisa ngegeret aku. Walaupun maknae dia sangat kuat. Dasar drummer. Dia nyeret aku ke depan lemari.
“ Eung…” kataku. Ah, aku benar-benar masih mengantuk.
“ Yang beneran hyeong! Semangat dong!” Min Hwan menepukku dengan keras.
“ Hei! Jangan pukur keras-keras. Kekuatan drummermu itu bisa menyakiti siapa aja tauk,” ujarku kesal.
“ Makanya! Cepet mandi! Aku tinggal ya.. Mau makan masakan gu..gu..gu apalah itu yang dimasak sama Siti,”
“ Bilang aja mau ayam,”
“Ehehe, yaudah annyeong…” Min Hwan keluar dari kamarku.
Diantara kami berlima, yang paling semangat kuliah itu Min Hwan. Dan semangatnya itu bukan karena mau belajar biar pinter. Tapi soalnya kalo dia kuliah bisa pulang bareng Hyo Ri. Godeunghakgyo nya Hyo Ri deket sama daehakgyeo nya Min Hwan. Sementara aku sama Min Hwan satu daehakgyeo. Jadi kalau pulang terpaksa deh pulang sendiri.
Ah, udah lah. Aku mau mandi. Nanti kalo nggak cepet mandi bisa-bisa Min Hwan nongol lagi nih.
Seung Hyeon P.o.V -end-
==========================================================================
Min Hwan P.o.V
“ Uwa… makanannya udah siap ya?” kataku melihat makanan yang sudah tertata rapi di meja makan.
“ Iya nih. Cepet banget kamu datengnya. Mesti keburu mau makan ayam ya?” tanya Siti.
“ Tau aja sih, haha,” jawabku.
“ Tungguin yang lain dulu dong. Kalian kuliahnya satu daenghakgyeo nggak sih?”
“ Aku sama Seung Hyeon sama, Hong ki hyeong sama Jae Jin hyeong juga sama, yang beda cuma Jong Hoon hyeong,” jelasku.
“ Ooo.. “
~~~~~~~~~
“ Annyeong haseyo!” seseorang di belakangku berteriak sambil menepuk pundakku hingga aku terkejut.
“ Uwoo?!” aku berbalik. Ternyata Won Bin hyeong.
“ Annyeong, hehe.”
“ Apasih ngagetin aja,” kataku sambil memukulnya.
“ Aduh! Sakit tau! “ Won Bin hyeong kesakitan dan dia membalas memukulku.
“ Nggak sakit week!” kataku sambil menjulurkan lidah.
“ Sudah kubilang, pukulanmu itu selalu bisa menyakiti orang,” seseorang muncul dari pintu. Hah, Seung Hyeon.
“ Annyeong haseyo Seung Hyeon-ah!” sapa Won Bin hyeong ke Seung Hyeon.
“ Yo anyeong!” Seung Hyeon menyapa balik lalu mereka tos.
“ Wah, ada banyak makanan nih. Aku sarapan di sini lagi ya?” tanya Won Bin hyeong padaku.
“ Hih, maunya. Tapi berhubung banyak, okelah,” kataku.
“ Umm, yeoja itu siapa, Min Hwan-ah?” bisik Won Bin hyeong.
“ Oh, iya. Kenalin, dia Siti. Dia bakal bantu-bantu aku sama yang lain di sini. Siti, ini Won Bin hyeong. Dulu anggota FT Island juga, tapi sekarang udah keluar,” kenalku.
“ Chonun Siti imnida,” Siti mengawali.
“ Chonun Won Bin imnida,”
“ Kamu bisa panggil Won Bin hyeong dengan sebutan oppa juga kayak yang lain. Nggak keberatan kan hyeong?” tanyaku.
“ Enggak dong, aku kan baik,haha,” jawab Won Bin hyeong yang kayaknya emang nggak keberatan.
“ Yo bro!” teriak seserang yang muncul dari balik pintu. Ah, rupanya Hong Ki hyeong. Di belakangnya ada Jong Hoon hyeong lalu Jae Jin hyeong.
“ Yo Hong Ki ! Yo Jong Hoon ! Yo Jae Jin!” mereka saling tos.
“ Hei, ayo cepat kita makan. Chonun mokko shipoyo! Laper nih,” seru Seung Hyeon.
“ Ayo!” kataku bersemangat.
“ Eh, tapi kursi di meja makan kita Cuma ada 6, gimana dong?” tanya Hong Ki hyeong.
“ Ah, aku bisa makan di ruang tv,” jawab Siti.
“ Jangan! Gimana kalau kita semua makan sambil nonton tv?” usul Jong hoon hyeong.
“ Ah, ide bagus! Kali ini giliranku yang memilih salurannya!” sahut Jae Jin hyeong.
“ Oke, ayo makan! Tapi, apa ini?” tanya Won Bin hyeong, dia satu-satunya yang belum tahu tentang masakan ini.
“ Ini gudeg, masakan khas dari negaranya Siti,” jelas Jong hoon.
“ Oooo,” kata Won Bin hyeong.
“ Ayolah cepat, aku keburu ingin nonton tv!” ujar Jae Jin hyeong kesal karena dari tadi tidak ada yang mengambil makan.
“ Oke,oke. Lagi pula sekarang sudah jam 07.15, kita harus cepat,” kata Seung Hyeon.
“ Dagl meokyo!!!!” teriakku.
“ Hih, dasar bocah ayam!” Hong Ki hyeong menjitakku disusul suara tawa orang-orang di ruangan ini, aku pun ikut tertawa.
Min Hwan P.o.V -end-
===========================================================================
Bersambung….
Akhirnya selesai juga part 2 nya. Sebenernya WYA aneh nggak sih ceritanya? Jangan lupa komen ya#maksamode:on =P

Whoever You Are part 2

Hiah, fanfic yang part 1 ada kesalahan nih.(=,=). Maklum ngepostnya buru-buru. Dan sekali lagi mian bagi yang ngerasa part 1 kepanjangan>.<! Tadinya mau di jadiin 2 part, tapi kalo 1 part 1 P.o.V rasanya aneh aja gituh. Ya udah, tah jadiin satu deh.

Whoever you are ini fanfic keduaku(pemula =P, fanfic pertama dibuat dengan ketidak sengajaan). Di sini ada tambahan yang kemaren lupa di tambahin. (masak kakak adik marganya beda=>bodoh) . Dan ralat, Min Hwan sama Seung Hyeon dari 18th mau 19th, yang Seung Hyeon ultahnya bukan beberapa bulan lagi tapi beberapa hari. Yasud, selamat baca part 2 nya =D

 

><><><><><><><><><

 

(Tahun di majuin setahun, jadi tahun 2011 dan masih bulan Agustus)

 

CAST    :

  • Lee Hong Ki a.k.a Hong Ki FT Island
  • Song Seung Hyeon a.k.a Seung Hyeon FT Island
  • Choi Jong Hoon a.k.a Jong Hoon FT Island
  • Lee Jae Jin a.k.a Jae Jin FT Island
  • Choi Min Hwan a.k.a Min Hwan FT Island
  • Siti a.k.a TKW, new person in FT Island

CAMEO:

  • Author a.k.a Han Hyo Ri, Min Hwan’s girlfriend
  • Lee Dong Hae a.k.a Hyo Ri’s brother (sebenernya anaknya sahabatnya papanya Hyo Ri  tapi dianggap kakak sama Hyo Ri saking deketnya mereka. Selain itu tiap papanya Hyo Ri ada tugas di luar kota atau luar negeri, papanya selalu nitipin Hyo Ri ke Dong Hae)

===========================================================================

16 Agustus 2011

————————————————————————————————————————-

Jong Hoon P.o.V

“Hosh, hosh, Hong Ki..” kataku sambil tiduran di kasur. Aku terlalu lelah berlari.

“Hosh, mwo?” Hong Ki sama sepertiku. Tadi kami berlari bersama gara-gara terlalu panik.

“Aku..ca..pek..” kataku terbata bata karena masih ngos-ngosan.

“Iyalah..nama..nya..ju..ga..lari..lari..panik..la..gi” Hong Ki juga sepertinya masih belum bisa mengatur nafas.

Kami diam sejenak untuk mengatur nafas. Ruangan menjadi sepi. Yang terdengar hanya hembusan nafas kami yang masih belum teratur. Beberapa menit kemudian, nafas kami kembali teratur.

“Ah, kenapa kita begitu bodoh!” kata Hong Ki membuka pembicaraan.

“Ah, tidak juga. Kita tidak bodoh, kita hanya terlalu panik.”

“Ah, benar juga. Gara-gara si bocah ayam nih!” Hong Ki ngomel-ngomel.

“Uwo? Si bocah ayam? Nama baru untuk si maknae nih. Si bocah ayam…”

“Habis dia ayamholic terus…dia teriak ayam kenceng banget..terus bikin kita panik..terus..terus..terus apa lagi ya?”Hong Ki garuk-garuk kepala.  Ah, mulai deh Hong Ki(-_-“)

“Terus aja nyampe nabrak tembok, jeduar!” kataku sambil bergaya kayak orang nabrak tembok.

“Hah, bodoh kamu Jong Hoon! Kapan juga kita nabrak tembok,” gerutu Hong Ki. Ah tetap saja dia bodoh. Dia jahat pada para dongsaeng tapi dia bodoh. Mending aku ya, udah leader, ganteng, bisa main gitar sama piano, baik hati tidak sombong, rajin menabung, daaan….

/plak! (Di jitak author)

-terjadilah percakapan geje antara Jong Hoon dan author, Hong Ki Cuma bisa bengong ngeliatin-

————————————————————————————————————————–

“ Aduh! Apaan sih author tiba-tiba muncul terus main jitak aja!” gerutuku.

“ Nggak usah narsis di ff gue deh, udah untung gue masukin di ni ff, eh ini malah narsis nggak jelas!” author marah-marah(author jadi gede, Jong Hoon jadi kecil. Kayak di komik-komik tuh lho).

“ Mi…mi…mi…mian….” aku berkata-terbata-bata. TAKUT!

“ MIAN, MIAN! CEPET LANJUTIN NIH CERITA. SERIUS SERIUS! MANA EKSPPRESINYA?!”

“ Mana ekspresinya? Kok kayaknya nggak nyambung ya?”

“ Mwo? Iya po? Ah biarin yang penting LANJUTIN CERITANYAAAA!”

“ I…i…i..ya.. “ (Jong Hoon jadi kecil banget, mojok di sudut kamar mau nangis-komikmode:on-)

“ Oke,” author balik, jalan ke tempat Hong Ki. Hong Ki ketakutan, “Hong Ki-ah”

“ Mwo? Jangan marahi aku!! Andwe!Andwe! Aku nggak salah apa-apa! Huhuhu,” Hong Ki ketakutan, mau nangis, mohon sampai guling-guling. Trus jongkok di depan author dengan muka melas (dashikomikmode:on-matanya jadi gedhe berkaca-kaca-). Aku pengen ketawa ngeliatnya, kalo ngakak ntar di marahin author lagi. Takut takut!>.<

“ Hong Ki-ah, gwaenchana?” kata author trus jongkok di depan Hong Ki. Raut mukanya berubah lembut. Hong Ki ngeliatin dengan muka heran “ aku tidak akan memarahimu oppa! Cuma mau bilang FIGHTING!” kata author sambil meluk Hong Ki dengan gaya MishamelukKotaromode:on(komik pita-ten). Lalu dia berjalan keluar menuju pintu kamar.

Aku dan Hong Ki hanya bisa terbengong melihat kejadian itu. ‘Dasar author aneh’ pikirku.

Author itu berbalik dan manatap kearahku. ‘Deg’ jangan-jangan dia mau memarahiku lagi! Tetapi ternyata dia hanya memandangiku(fyuh..), lalu dia beralih ke Hong Ki. Raut wajahnya berubah seketika. Dia tersenyum dan berkata, “annyeonghi kaseyo oppa”.

“Annyeonghi kyeoseyo,” jawab Hong ki dengan raut wajah dan perasaan yang masih bingung.

Dia kembali menatapku dengan tatapan yang seolah-olah berkata ‘aku mengawasimu!’.

“ Oke semua, lanjut ke cerita!” kata author itu lalu ngilang gitu aja.

“ Author aneh” kataku.

“ Author mengerikan…” kata Hong Ki.

“ Ganas..” kataku lagi.

Tiba-tiba author muncul lagi dari balik pintu. Aku sama Hong Ki diem. Lalu dia berkata dengan datar, “balik ke cerita oy!”.

Aku dan Hong Ki hanya berpandangan lalu berdiri dan menuruti perintah author. Ndak nanti di marahin (T.T)

“ Ah sampai mana sih tadi?’ tanya Kong Ki.

“ Sampai kamu bilang aku bodoh kan?” aku berusaha mengingat.

“Ah eung. Hana, dul, set, and ACTION!”(jadi kayak main film apa sinetron sih -_-“)

————————————————————————————————————————–

-back to the story-

“Kamu yang bodoh. Coba deh kalau kamu lagi pake baju kayak tukang parkir pas ada yang mau ngeluarin mobil, dan yang ngeluarin mobil itu cuma bisa ngandalin arahan tukang parkir buat ngeluarin mobil terus ngira kamu tukang parkir gara-gara bilang terus…terus… .kan kalo kamu keterusan bilang terus…terus..lama-lama tu orang nabrak. Iya nggak?” jelasku panjang lebar.

“Ah iya juga ya, kamu pinter..” pikir Hong Ki.

“ Haha, Jong Hoon gituh,” kataku membanggakan diri. Nggak berani ngomong macam-macam nih, nanti diamuk author lagi.

“ Jong Hoon hebat… Choigoya! Emang pantes deh jadi leader!” Hong Ki menepuk-nepuk pundakku sambil senyum-senyum.(author: hyeong-hyeong yang bodoh-_-“)

“ Haha. Udah ah, aku balik ke kamar ya. Mau mandi terus berangkat kuliah,” kataku sambil berjalan ke pintu, diikuti Hong Ki.

“ Eung, aku juga mau mandi terus siap-siap kuliah. Yang nganter kuliah Min Hwan sama Seung Hyeon kamu kan?” tanya Hong Ki. (Min Hwan sama Seung Hyeon masih 18 tahun, dibawah umur).

“ Uwo? Aniyo! Bukannya Won Bin mau dateng ya? “

“ Oh iya! Aku lupa. Oke, annyeong,”

“Annyeong,” aku berbalik kembali ke kamar.

Jong Hoon P.o.V –end-

===========================================================================

Seung Hyeon P.o.V

“ Hyeong, bangun. Bangunlah…apa kamu nggak kuliah? “ seseorang membangunkanku.

“ Mwo?” kataku sambil membuka mata perlahan. Ngantuk banget nih, semalem main game sama Jae Jin hyeong. Mana Cuma menang 2 kali, ah benar-benar menyebalkan!

“ Hyeong.. Cepat bangun dan mandi! Kalau tidak aku dan Won Bin hyeong akan meninggalkanmu!” ujar orang itu lagi.

Aku menggeliat dan duduk, melihat ke orang itu. Ah, ternyata Min Hwan. Dia sudah berpakaian rapi.

“ Mwo? Ayolah cepat! Nanti kasian Won Bin hyeong kalo dia sampai sini kamu belum siap!” Min Hwan menggeretku. Aku ngikut dengan lemesnya. Ah, tapi tetep aja dia bisa ngegeret aku. Walaupun maknae dia sangat kuat. Dasar drummer. Dia nyeret aku ke depan lemari.

“ Eung…” kataku. Ah, aku benar-benar masih mengantuk.

“ Yang beneran hyeong! Semangat dong!” Min Hwan menepukku dengan keras.

“ Hei! Jangan pukur keras-keras. Kekuatan drummermu itu bisa menyakiti siapa aja tauk,” ujarku kesal.

“ Makanya! Cepet mandi! Aku tinggal ya.. Mau makan masakan gu..gu..gu apalah itu yang dimasak sama Siti,”

“ Bilang aja mau ayam,”

“Ehehe, yaudah annyeong…” Min Hwan keluar dari kamarku.

Diantara kami berlima, yang paling semangat kuliah itu Min Hwan. Dan semangatnya itu bukan karena mau belajar biar pinter. Tapi soalnya kalo dia kuliah bisa pulang bareng Hyo Ri. Godeunghakgyo nya Hyo Ri deket sama daehakgyeo nya Min Hwan. Sementara aku sama Min Hwan satu daehakgyeo. Jadi kalau pulang terpaksa deh pulang sendiri.

Ah, udah lah. Aku mau mandi. Nanti kalo nggak cepet mandi bisa-bisa Min Hwan nongol lagi nih.

Seung Hyeon P.o.V -end-

==========================================================================

Min Hwan P.o.V

“ Uwa… makanannya udah siap ya?” kataku melihat makanan yang sudah tertata rapi di meja makan.

“ Iya nih. Cepet banget kamu datengnya. Mesti keburu mau makan ayam ya?” tanya Siti.

“ Tau aja sih, haha,” jawabku.

“ Tungguin yang lain dulu dong. Kalian kuliahnya satu daenghakgyeo nggak sih?”

“ Aku sama Seung Hyeon sama, Hong ki hyeong sama Jae Jin hyeong juga sama, yang beda cuma Jong Hoon hyeong,” jelasku.

“ Ooo.. “

~~~~~~~~~

“ Annyeong haseyo!” seseorang di belakangku berteriak sambil menepuk pundakku hingga aku terkejut.

“ Uwoo?!” aku berbalik. Ternyata Won Bin hyeong.

“ Annyeong, hehe.”

“ Apasih ngagetin aja,” kataku sambil memukulnya.

“ Aduh! Sakit tau! “ Won Bin hyeong kesakitan dan dia membalas memukulku.

“ Nggak sakit week!” kataku sambil menjulurkan lidah.

“ Sudah kubilang, pukulanmu itu selalu bisa menyakiti orang,” seseorang muncul dari pintu. Hah, Seung Hyeon.

“ Annyeong haseyo Seung Hyeon-ah!” sapa Won Bin hyeong ke Seung Hyeon.

“ Yo anyeong!” Seung Hyeon menyapa balik lalu mereka tos.

“ Wah, ada banyak makanan nih. Aku sarapan di sini lagi ya?” tanya Won Bin hyeong padaku.

“ Hih, maunya. Tapi berhubung banyak, okelah,” kataku.

“ Umm, yeoja itu siapa, Min Hwan-ah?” bisik Won Bin hyeong.

“ Oh, iya. Kenalin, dia Siti. Dia bakal bantu-bantu aku sama yang lain di sini. Siti, ini Won Bin hyeong. Dulu anggota FT Island juga, tapi sekarang udah keluar,” kenalku.

“ Chonun Siti imnida,” Siti mengawali.

“ Chonun Won Bin imnida,”

“ Kamu bisa panggil Won Bin hyeong dengan sebutan oppa juga kayak yang lain. Nggak keberatan kan hyeong?” tanyaku.

“ Enggak dong, aku kan baik,haha,” jawab Won Bin hyeong yang kayaknya emang nggak keberatan.

“ Yo bro!” teriak seserang yang muncul dari balik pintu. Ah, rupanya Hong Ki hyeong. Di belakangnya ada Jong Hoon hyeong lalu Jae Jin hyeong.

“ Yo Hong Ki ! Yo Jong Hoon ! Yo Jae Jin!” mereka saling tos.

“ Hei, ayo cepat kita makan. Chonun mokko shipoyo! Laper nih,” seru Seung Hyeon.

“ Ayo!” kataku bersemangat.

“ Eh, tapi kursi di meja makan kita Cuma ada 6, gimana dong?” tanya Hong Ki hyeong.

“ Ah, aku bisa makan di ruang tv,” jawab Siti.

“ Jangan! Gimana kalau kita semua makan sambil nonton tv?” usul Jong hoon hyeong.

“ Ah, ide bagus! Kali ini giliranku yang memilih salurannya!” sahut Jae Jin hyeong.

“ Oke, ayo makan! Tapi, apa ini?” tanya Won Bin hyeong, dia satu-satunya yang belum tahu tentang masakan ini.

“ Ini gudeg, masakan khas dari negaranya Siti,” jelas Jong hoon.

“ Oooo,” kata Won Bin hyeong.

“ Ayolah cepat, aku keburu ingin nonton tv!” ujar Jae Jin hyeong kesal karena dari tadi tidak ada yang mengambil makan.

“ Oke,oke. Lagi pula sekarang sudah jam 07.15, kita harus cepat,” kata Seung Hyeon.

“ Dagl meokyo!!!!” teriakku.

“ Hih, dasar bocah ayam!” Hong Ki hyeong menjitakku disusul suara tawa orang-orang di ruangan ini, aku pun ikut tertawa.

Min Hwan P.o.V -end-

===========================================================================

 

Bersambung….

 

Akhirnya selesai juga part 2 nya. Sebenernya WYA aneh nggak sih ceritanya? Jangan lupa komen ya#maksamode:on =P

 

Beginilah Akhirnya

Annyeong haseo. Hah, bukannya post Whoever You Are part 2 malah ngepost ff lain,hehe. Oke, jadi sebenernya ini tugas bahasa indonesia duluuu(Makanya udah jadi dan tinggal di post. Mendahulukan yang udah jadi, gituh.).
Ceritanya kan suruh bikin cerpen, trus aku bikin cerpen deh dengan niat cuma mau masukin nama Jae Jin, Won Bin, sama Min Hwan. Trus nama Kang Min Hyuk tu aku bikin sendiri liat dari yang nama korea lewat tanggal-bulan-hari lahir tuh lho, tapi cuma asal tanpa merhatiin tanggal, bulan, sama tahun lahirnya(cuma ambil namanya doang).
Dan belakangan setelah ngumpulin ni tugas, aku baru tau kalo drummernya CNB tuh namanya Kang Min Hyuk!(shock). Yasud, akhirnya ini jadi fanfic deh. Makanya, yang bahasa korea ini di miringin, namanya juga buat tugas Bahasa Indonesia-_-(males ngeditnya,wkwk).
><><><><><><><><><>< 
CAST :
Shin Eun Ra
Kang Min Hyuk a.k.a Kang Min Hyuk
Lee Jae Jin a.k.a Shin Jae Jin (Eun Ra’s brother)
Oh Won Bin a.k.a Shin Won Bin (Eun Ra’s brother)
Song Seung hyeon a.k.a Shin Seung Hyeon (Eun Ra’s brother)
Author a.k.a Han Hyo Ri
Choi Min Hwan a.k.a Hyo Ri’s boyfriend
===========================================================================
Aku berlari ke taman dan berusaha menghilangkan ingatan tentang kejadian hari ini. Sampai di tengah taman aku mulai kelelahan. Akupun berhenti dan berdiri terpaku. Tak terasa air mataku menetes besamaan dengan gerimis yang mulai membasahi Seoul. Hujan turun makin deras, begitu pula tangisku. Langit seperti tahu bagaimana suasana hatiku saat ini. Akhirnya aku terjatuh dan duduk diam sambil terus menangis.
Namaku Shin Eun Ra. Hari ini benar benar penuh kekecewaan untukku. Dan semua ini tak mungkin terjadi bila aku tidak mengenal Kang Min Hyuk, seseorang yang telah membuatku menjadi seperti ini.
*****
(flashback)
Setahun yang lalu…
“Eun Ra, cepatlah bangun! kamu kan harus sekolah,” kudengar suara teriakan Jae Jin oppa yang berusaha membangunkanku.
“Aku kan masih mengantuk oppa!” erangku.
“Kalau jam 7 kamu belum siap, aku tak akan mengantarmu ke sekolah,” ancamnya.
“Minta anterin Won Bin oppa  dong.”
“Won Bin udah berangkat. Katanya ada urusan.”
“Umm, telepon Min Hyuk dong!” jawabku tak mau kalah.
“Dia kan anak rajin, jam segini pasti udah disekolah dong. Kamu mau ngerepotin dia ya?”
“Huh! Iya deh aku siap-siap sekarang. Keluar sana!” kataku sambil mendorongnya keluar kamar. Akhirnya aku yang kalah.
“Jae Jin oppa menyebalkan!” pikirku.
Dengan perasaan yang masih sebal aku segera menuruti kata oppaku untuk siap-siap. Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri. Tapi kalu ada yang nganter, lebih baik dianter dong. Setelah selesai aku langsung keluar dan berharap menemukan banyak masakan enak di meja. Jae Jin oppa itu jago masak. Sejak kami hanya tinggal bertiga dengan Won Bin oppa, Jae Jin oppa belajar memasak. Dan masakannya sangat enak. Setelah aku sampai meja makan aku membuka tudung saji, dan ternyata….
OPPAAAA! Kenapa cuma ada roti sih? Oppa kok nggak masak?” tanyaku kesal.
“Lagi males, lagi pula tadi aku bangun agak kesiangan jadi nggak memungkinkan masak. Ini aja mungkin mepet soalnya harus nganter kamu dulu.”
“Ugh, ya udah deh.”
“Cepet lho makannya. Nggak dikunyah lebih bagus tuh, kan jadi lebih cepet.”
“Ih oppa! Ya nggak mungkin dong kalo nggak di kunyah. Ini bukan bubur oppa. Emang aku ini binatang?” omelku sampai aku lupa makan rotiku.
“Hahaha, ya nggak lah. Kan cuma bercanda Eun Ra,” jawab oppaku sambil tertawa.       
“Hih, katanya keburu-buru. Kok masih sempet-sempetnya bercanda sih?!”           
“Udah ah,cepetan makan jangan ngomel terus. Nanti malah bukan cuma aku yang telat, kamu juga telat. Aku ke depan duluan ya.”      
“Terserah deh.”
Aku menghabiskan roti dan susuku lalu segera keluar. Kami segera berangkat. 5 menit kemudian kami sampai di sekolahku.      
Gomawo oppa,” aku berterimakasih dengan nada dipaksakan, setengah hati, dan senyum yang dibuat-buat karena masih sebal dengan kejadian di rumah tadi.
“Wah nggak ikhlas nih bilang makasihnya?” ucap Jae Jin oppa sambil tersenyum. Senyumnya itu adalah salah satu senjata ampuh untuk membuatku tidak kesal lagi padanya. Walaupun dia saudara kandungku, dia bisa membuatku meleleh! Terkadang aku berfikir jangan-jangan sebenarnya dia bukan saudara kandungku.        
“Hehe, gomawo oppaku yang baik,” sekarang nadaku lembut dan senyum yang lebih tulus.
“Nah, gitu dong. Cheonmaneyo.
“Oke, aku ke kelas dulu ya, annyeonghi kyeoseyo!”
 “Annyeonghi kaseyo,” jawab Jae Jin oppa.
Aku melambaikan tangan dan melihatnya menjauh dari sekolah. Aku berbalik dan berjalan menuju kelasku.
*****
Saat masuk ke kelas, kulihat Hyo Ri sudah ada di kelas. Muncul rencana di pikiranku untuk mengagetkannya dari belakang. Aku berjalan pelan-pelan. Dan di belakangnya aku langsung menjalankan rencanaku.
Annyeong haseyo, Hyo Ri!” ucapku cukup keras hingga aku berhasil membuatnya kaget.
“EUN RA! Ngagetin orang aja sih kamu tuh!” omelnya. Ekspresi kagetnya tadi benar-benar lucu sehingga membuatku tak kuasa menahan tawa.
“Huahaha, ekpresi kagetnya Hyo Ri benar-benar lucu!” aku tertawa terus sampai perutku sakit. Apa lagi muka sebalnya malah membuat tawaku makin menjadi-jadi.
“Sudahlah Eun Ra, jangan di ketawain terus. Kasian lho Hyo Ri. Lagi pula apa perutmu nggak sakit ketawa sampai keyak gitu?” tawaku reda saat mendengar suara yang sepertinya tepat dibelakangku itu. Perasaan geliku menghilang. Aku menoleh ke belakang. Dan ternyata dugaanku benar, itu adalah suara Min Hyuk.
“Ehehe,” hanya itu yang bisa kulakukan di depannya. Bisa kurasakan wajahku memanas. Sepertinya wajahku memerah.
“Cielah, ada yang salah tingkah nih,” kata Hyo Ri sambil tertawa.
“Ih, apaan sih,” ucapku kesal.
Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke tempat dudukku dengan perasaan yang melayang. Aku masih terpesona dan sedikit salah tingkah gara-gara Min Hyuk. Padahal sebulan lalu aku sudah resmi menjadi pacarnya. Sejak dari kelas 1 SMP aku memang menyukainya. Dan sekarang mimpiku jadi kenyataan. Bagiku dia adalah cowok yang paling baik. Dia sering membantuku. Terutama dalam urusan pelajaran. Setelah di ajari Min Hyuk, nilaiku naik drastis. Yah, dia memang salah satu murid pintar di sekolahku.
*****
10 bulan kemudian…
Bel pulang berbunyi. Aku dan Hyo Ri segera menuju loker lalu berjalan menuju gerbang. Akhir-akhir ini Min Hyuk tidak pernah mengantarku pulang. Katanya dia ada les. Memang sih dia ikut macam-macam les, tetapi biasanya dia les tiap sore dan malam. Buktinya dulu dia bisa mengantarku pulang. Tapi tak apalah, aku itu kan juga untuk kepentingannya. Walaupun sebenarnya kupikir dia agak berubah. Hyo Ri menunggu pacarnya, Min Hwan. Min Hwan adalah anak SMA di sekolah yang sama dengan kami. Tetapi jam pulang sekolahnya 5 menit lebih lama dari anak SMP. Sedangkan aku meminta Seung Hyeon oppa untuk menjemputku karena Jae Jin oppa belum pulang sekolah. Sesampai di gerbang kami menunggu sambil duduk di bawah pohon dekat gerbang yang masih berada di area halaman sekolah.
“Eun Ra, mau nggak nanti sore kita jalan-jalan?” Hyo Ri membuka pembicaraan.
“Mau dong. Cuma berdua aja nih?” 
“Aku ngajak Min Hwan dong. Kamu ngajak Min Hyuk aja,” usulnya.          
“Oke, aku usahain deh.”
Aku melihat ke luar gerbang untuk mengecek apakah Seung Hyeon oppa sudah sampai atau belum. Ternyata aku tidak melihat tanda-tanda adanya Seung Hyeon oppa. Tetapi, aku malah melihat Min Hyuk di sana.      
“Hei, ada Min Hyuk tuh di sana. Gimana kalo tanya sekarang aja?”           
“Oke, ayo ke sana.”   
Kami berjalan menuju tempat Min Hyuk dan teman-temannya. Tetapi saat akan sampai, langkahku memelan. Entah kenapa aku merasa ragu mengajaknya, khawatir dia tak bisa ikut. Tetapi Hyo Ri terus menarikku. Akhirnya kami sampai. 
Anyeong haseyo Min Hyuk dan semuanya,” aku menyapa mereka sambil tersenyum. Walaupun senyumku agak dipaksakan.    
“Ada apa Eun Ra?” sepertinya dia memang berubah. Dia langsung menanyakan tujuanku datang ke sini tanpa menjawab sapaanku. 
“Umm, Min Hyuk… Kamu mau nggak nanti sore jalan-jalan sama aku, Hyo Ri, dan Min Hwan?” 
“Dimana?”     
“Di taman mungkin.” 
“Eun Ra, tentu saja aku mau,” ucapnya sambil tersenyum manis sekali.    
“Benarkah?” tanyaku dengan nada yang cukup senang karena sepertinya kekhawatiranku tak akan terwujud.   
“Tentu saja. Tapi…”   
“Tapi kenapa?” aku mulai khawatir lagi.      
“Tapi aku tidak bisa. Aku ada les sore ini. Aku benar-benar minta maaf Eun Ra. Mianhe,” Min Hyuk menjelaskan dengan ekspresi benar-benar menyesal.
“Tidak apa-apa Min Hyuk. Aku bisa mengerti. Toh itu untuk kepentinganmu juga.” Kataku berusaha mengerti dia walaupun aku kecewa.          
“Bener?” tanyanya untuk meyakinkan.         
“Iya, bener,” jawabku dengan senyum sebisanya dan semanis mungkin untuk menutupi rasa kecewaku.
Anyong kaseyo,” ucapku dan Hyo Ri sambil berbalik meninggalkan mereka. Saat berbalik aku melihat Seung Hyeon oppa sudah menungguku bertepatan dengan Hyo Ri melihat Min Hwan hampir sampai gerbang. Kami saling mengucapkan selamat tinggal. Aku segera menuju tempat Jong Hoon oppa untuk pulang.
***** 
Saat itu aku sedang melamun sambil mendengarkan musik saat Seung Hyeon oppa memanggilku karena Hyo Ri dan Min Hwan datang. Aku menyuruh mereka menungguku bersiap-siap. Setelah selesai, kami berangkat. Rencana awalnya kami mau ke taman. Tetapi entah mengapa kami malah jalan-jalan di mall. Tetapi kami bersenang-senang di sana. Hingga kami dikejutkan oleh apa yang di lihat Hyo Ri.
“Hei, bukankah itu Min Hyuk?” tanya Hyo Ri dengan nada agak kaget.      
“Hah? Yang mana?” aku dan Min Hwan bertanya serempak.         
“Itu lho, di toko baju yang kayaknya sama cewek,” Hyo Ri memberi tahu sambil menunjuk tempat dan orang yang dimaksud.
“Ah iya, sepertinya itu Min Hyuk,” kata Min Hwan setelah mengamati orang itu. 
“Mungkin iya,” ucapku dengan agak ragu.   
Kami mendekat ke tempat toko tempat orang yang sepertinya Min Hyuk berada. Setelah kuperhatikan, dia memang Min Hyuk. Dan dia bersama seorang cewek yang nggak kukenal. Sakit memang melihat itu semua. Tetapi aku berusaha berfikiran positif. Mungkin saja itu kakak sepupunya, karena dia anak tunggal. Hingga akhirnya aku mengajak Hyo Ri dan Min Hwan pergi makan dari pada melihat mereka terus. Kami berjalan ke arah yang berlawanan dengan tempat dimana Min Hyuk berada. Aku berada di belakang Hyo Ri dan Min Hwan yang asyik bercanda. Kemudian aku menoleh ke belakang sekali. Dan kulihat mereka berpelukan. Hatiku semakin sakit melihatnya. Namun aku tetap berusaha tegar dan melupakan apa yang kulihat barusan. Aku berbalik, bergabung dengan Hyo Ri dan Min Hwan. Kami kembali bersenang-senang. Beberapa menit kemudian aku sudah melupakan apa yang kulihat tadi.
*****
Sebulan kemudian…  
Entah mengapa tiba-tiba aku ingat kejadian-kejadian yang dimulai sejak sebulan lalu. Tentang apa yang aku, Hyo Ri, dan Min Hwan lihat. Setelah kami melihat Min Hyuk di mall sebulan lalu, kami sempat beberapa kali melihat Min Hyuk lagi di mall dan di taman. Dan dia selalu bersama dengan cewek yang sama. Hubunganku dengan Min Hyuk juga semakin renggang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Min Hyuk membicarakan masalah ini nanti sepulang sekolah. Saat bel pulang sekolah berbunyi aku langsung menarik tangan Min Hyuk.        
“Tunggu, aku mau ngomong sama kamu sebentar.”           
“Oke, ada apa?” tanyanya heran.
“Nanti kamu juga tau. Ayo ke halaman belakang,” kataku sambil tersenyum.
Min Hyuk mengerutkan kening. Lalu tanpa ragu ataupun curiga dia mengikutiku. Halaman belakang sekolah biasanya memang dipakai murid-murid untuk membicarakan suatu masalah dengan orang lain. Setelah sampai aku mulai bicara.       
“Min Hyuk, ingatkah hari apa ini?” tanyaku sambil tersenyum manis.       
“Tentu saja, hari Sabtu kan?” dia menjawab dengan agak ragu.     
“Min Hyuk! Apa kamu lupa? Hari ini tepat setahun kita pacaran!” ucapku dengan nada seolah-olah kesal.         
“Oh iya! Selamat untuk kita,” katanya sambil tersenyum manis sekali.      
“Selamat selamat selamat!,” aku ikut tersenyum manis yang sebenarnya dibuat-buat.    
“Nah, udah ngomongnya?” pertanyaan itu sungguh merusak suasana.      
“Tentu saja belum. Aku ingin menanyakan suatu hal padamu. Maukah kamu menjawabnya?” aku masih tersenyum dan sikapku menjadi agak formal.    
“Eh, tentu,” dia menjawab dengan agak ragu dan senyumnya sudah mulai memudar. Sepertinya sekarang dia menerka apa pertanyaanku. 
“Min Hyuk,” aku mengela nafas, “aku ingin penjelasan tentang siapa cewek yang sering kamu ajak jalan-jalan di sore hari,” mataku mulai berkaca-kaca, tetapi aku bertahan untuk tidak menangis.         
“Eh? Yang mana ya?” dia mulai pura-pura tidak tahu.        
“Sudahlah, sejak sebulan lalu aku, Hyo Ri, dan Min Hwan beberapa kali melihatmu bersama seorang cewek di mall atau taman!” aku berusaha tidak menangis. Aku membayangkan Jae Jin oppa tersenyum karena senyumnya itu selalu bisa menguatkanku saat sedih ataupun meredakan amarah dan kekesalanku. Yah, aku pun tidak menangis.           
Aku dan Min Hyuk terus berdebat. Hingga akhirnya aku yang menang dan dia mengakui semuanya. Sebenarnya sejak awal dia memang tidak mencintaiku. Dia hanya mempermainkan perasaanku. Cewek itu adalah ceweknya yang asli, yang sudah bertahun-tahun pacaran dengannya. Dia yang biasanya di hadapanku hanyalah topeng. Sikap manisnya hanya sandiwara belaka. Aku kecewa dan berlari meninggalkannya.
***** 
Dan disinilah aku. Duduk di tanah yang becek karena terkena derasnya air hujan. Menumpahkan air mata beserta seluruh kepedihan di hatiku bersama langit yang menumpahkan air ke Seoul dengan deras. Hatiku penuh dengan rasa sakit, perih, kecewa, yang semuanya bercampur jadi satu. Min Hyuk, seseorang yang sangat berharga bagiku sampai sudah kuanggap sebagai bagian dari hidupku dan kupikir akan menjadi cinta terakhirku telah membohongiku begitu jauh. Semua perkataannya bohong, semua cintanya hanya sandiwara belaka. Aku benar-benar sangat bodoh telah mempercayainya. Tapi entah kenapa aku merasa masih mencintainya. Aku masih ingin menunggunya, aku tetap ingin bersamanya. Yah, dan beginilah akhirnya. Dia mengecewakanku, tapi aku tak sanggup melupakannya. Mungkin aku akan tetap menunggunya semampuku.
***** 
Dengan seragam yang basah terkena hujan dan kotor tekena lumpur, aku berjalan pulang ke rumah.    
“Hei, ada apa dengan pakaianmu Eun Ra?” Jae Jin oppa kaget melihatku yang tampak berantakan. Tetapi aku hanya diam dan tetap jalan ke kamar dan mengambil baju. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.     
“Eun Ra! Apa yang terjadi padamu?” Seung Hyun oppa yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihatku di depan kamar mandi dengan keadaan seperti ini. Aku tetap diam dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah selesai aku kembali ke kamar dan menutup pintu. Lalu aku duduk di tempat tidur sambil menatap ke arah hujan yang masih mengalir deras. Ku putar lagu After Love dari F.T Island di I-pod ku dan aku kembali merenungi kejadian buruk yang hari ini telah terjadi. Lagu ini sangat cocok dengan nasib yang menimpaku.
~
Modu da geojitmariya da geojitmariya
Neoui sarangul da geojitmariya
Eetorok apuege haeso
Nal sulpuege haeso ulrego gan saranginjanha
Namanul saranghandago nal jikyeojundago
Neoui sarangun da geojitmariya
Nae maum da gajyeogago sarangdo gajyeogago
Ddeonanun ge saranginjanha
===========================================================================
Gimana? Aneh ya ceritanya? Kalo di pikir-pikir berarti sebenernya ini fanfic pertamaku. Bagi yang baca harap komen ya. Gomawo… 🙂

Beginilah Akhirnya

Annyeong haseo. Hah, bukannya post Whoever You Are part 2 malah ngepost ff lain,hehe. Oke, jadi sebenernya ini tugas bahasa indonesia duluuu(Makanya udah jadi dan tinggal di post. Mendahulukan yang udah jadi, gituh.).

Ceritanya kan suruh bikin cerpen, trus aku bikin cerpen deh dengan niat cuma mau masukin nama Jae Jin, Won Bin, sama Min Hwan. Trus nama Kang Min Hyuk tu aku bikin sendiri liat dari yang nama korea lewat tanggal-bulan-hari lahir tuh lho, tapi cuma asal tanpa merhatiin tanggal, bulan, sama tahun lahirnya(cuma ambil namanya doang).

Dan belakangan setelah ngumpulin ni tugas, aku baru tau kalo drummernya CNB tuh namanya Kang Min Hyuk!(shock). Yasud, akhirnya ini jadi fanfic deh. Makanya, yang bahasa korea ini di miringin, namanya juga buat tugas Bahasa Indonesia-_-(males ngeditnya,wkwk).

><><><><><><><><><><

CAST :

Shin Eun Ra

Kang Min Hyuk a.k.a Kang Min Hyuk

Lee Jae Jin a.k.a Shin Jae Jin (Eun Ra’s brother)

Oh Won Bin a.k.a Shin Won Bin (Eun Ra’s brother)

Song Seung hyeon a.k.a Shin Seung Hyeon (Eun Ra’s brother)

Author a.k.a Han Hyo Ri

Choi Min Hwan a.k.a Hyo Ri’s boyfriend

===========================================================================

Aku berlari ke taman dan berusaha menghilangkan ingatan tentang kejadian hari ini. Sampai di tengah taman aku mulai kelelahan. Akupun berhenti dan berdiri terpaku. Tak terasa air mataku menetes besamaan dengan gerimis yang mulai membasahi Seoul. Hujan turun makin deras, begitu pula tangisku. Langit seperti tahu bagaimana suasana hatiku saat ini. Akhirnya aku terjatuh dan duduk diam sambil terus menangis.

Namaku Shin Eun Ra. Hari ini benar benar penuh kekecewaan untukku. Dan semua ini tak mungkin terjadi bila aku tidak mengenal Kang Min Hyuk, seseorang yang telah membuatku menjadi seperti ini.

*****

(flashback)

Setahun yang lalu…

“Eun Ra, cepatlah bangun! kamu kan harus sekolah,” kudengar suara teriakan Jae Jin oppa yang berusaha membangunkanku.

“Aku kan masih mengantuk oppa!” erangku.

“Kalau jam 7 kamu belum siap, aku tak akan mengantarmu ke sekolah,” ancamnya.

“Minta anterin Won Bin oppa dong.”

“Won Bin udah berangkat. Katanya ada urusan.”

“Umm, telepon Min Hyuk dong!” jawabku tak mau kalah.

“Dia kan anak rajin, jam segini pasti udah disekolah dong. Kamu mau ngerepotin dia ya?”

“Huh! Iya deh aku siap-siap sekarang. Keluar sana!” kataku sambil mendorongnya keluar kamar. Akhirnya aku yang kalah.

“Jae Jin oppa menyebalkan!” pikirku.

Dengan perasaan yang masih sebal aku segera menuruti kata oppaku untuk siap-siap. Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri. Tapi kalu ada yang nganter, lebih baik dianter dong. Setelah selesai aku langsung keluar dan berharap menemukan banyak masakan enak di meja. Jae Jin oppa itu jago masak. Sejak kami hanya tinggal bertiga dengan Won Bin oppa, Jae Jin oppa belajar memasak. Dan masakannya sangat enak. Setelah aku sampai meja makan aku membuka tudung saji, dan ternyata….

OPPAAAA! Kenapa cuma ada roti sih? Oppa kok nggak masak?” tanyaku kesal.

“Lagi males, lagi pula tadi aku bangun agak kesiangan jadi nggak memungkinkan masak. Ini aja mungkin mepet soalnya harus nganter kamu dulu.”

“Ugh, ya udah deh.”

“Cepet lho makannya. Nggak dikunyah lebih bagus tuh, kan jadi lebih cepet.”

“Ih oppa! Ya nggak mungkin dong kalo nggak di kunyah. Ini bukan bubur oppa. Emang aku ini binatang?” omelku sampai aku lupa makan rotiku.

“Hahaha, ya nggak lah. Kan cuma bercanda Eun Ra,” jawab oppaku sambil tertawa.

“Hih, katanya keburu-buru. Kok masih sempet-sempetnya bercanda sih?!”

“Udah ah,cepetan makan jangan ngomel terus. Nanti malah bukan cuma aku yang telat, kamu juga telat. Aku ke depan duluan ya.”

“Terserah deh.”

Aku menghabiskan roti dan susuku lalu segera keluar. Kami segera berangkat. 5 menit kemudian kami sampai di sekolahku.

Gomawo oppa,” aku berterimakasih dengan nada dipaksakan, setengah hati, dan senyum yang dibuat-buat karena masih sebal dengan kejadian di rumah tadi.

“Wah nggak ikhlas nih bilang makasihnya?” ucap Jae Jin oppa sambil tersenyum. Senyumnya itu adalah salah satu senjata ampuh untuk membuatku tidak kesal lagi padanya. Walaupun dia saudara kandungku, dia bisa membuatku meleleh! Terkadang aku berfikir jangan-jangan sebenarnya dia bukan saudara kandungku.

“Hehe, gomawo oppaku yang baik,” sekarang nadaku lembut dan senyum yang lebih tulus.

“Nah, gitu dong. Cheonmaneyo.

“Oke, aku ke kelas dulu ya, annyeonghi kyeoseyo!”

Annyeonghi kaseyo,” jawab Jae Jin oppa.

Aku melambaikan tangan dan melihatnya menjauh dari sekolah. Aku berbalik dan berjalan menuju kelasku.

*****

Saat masuk ke kelas, kulihat Hyo Ri sudah ada di kelas. Muncul rencana di pikiranku untuk mengagetkannya dari belakang. Aku berjalan pelan-pelan. Dan di belakangnya aku langsung menjalankan rencanaku.

Annyeong haseyo, Hyo Ri!” ucapku cukup keras hingga aku berhasil membuatnya kaget.

“EUN RA! Ngagetin orang aja sih kamu tuh!” omelnya. Ekspresi kagetnya tadi benar-benar lucu sehingga membuatku tak kuasa menahan tawa.

“Huahaha, ekpresi kagetnya Hyo Ri benar-benar lucu!” aku tertawa terus sampai perutku sakit. Apa lagi muka sebalnya malah membuat tawaku makin menjadi-jadi.

“Sudahlah Eun Ra, jangan di ketawain terus. Kasian lho Hyo Ri. Lagi pula apa perutmu nggak sakit ketawa sampai keyak gitu?” tawaku reda saat mendengar suara yang sepertinya tepat dibelakangku itu. Perasaan geliku menghilang. Aku menoleh ke belakang. Dan ternyata dugaanku benar, itu adalah suara Min Hyuk.

“Ehehe,” hanya itu yang bisa kulakukan di depannya. Bisa kurasakan wajahku memanas. Sepertinya wajahku memerah.

“Cielah, ada yang salah tingkah nih,” kata Hyo Ri sambil tertawa.

“Ih, apaan sih,” ucapku kesal.

Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke tempat dudukku dengan perasaan yang melayang. Aku masih terpesona dan sedikit salah tingkah gara-gara Min Hyuk. Padahal sebulan lalu aku sudah resmi menjadi pacarnya. Sejak dari kelas 1 SMP aku memang menyukainya. Dan sekarang mimpiku jadi kenyataan. Bagiku dia adalah cowok yang paling baik. Dia sering membantuku. Terutama dalam urusan pelajaran. Setelah di ajari Min Hyuk, nilaiku naik drastis. Yah, dia memang salah satu murid pintar di sekolahku.

*****

10 bulan kemudian…

Bel pulang berbunyi. Aku dan Hyo Ri segera menuju loker lalu berjalan menuju gerbang. Akhir-akhir ini Min Hyuk tidak pernah mengantarku pulang. Katanya dia ada les. Memang sih dia ikut macam-macam les, tetapi biasanya dia les tiap sore dan malam. Buktinya dulu dia bisa mengantarku pulang. Tapi tak apalah, aku itu kan juga untuk kepentingannya. Walaupun sebenarnya kupikir dia agak berubah. Hyo Ri menunggu pacarnya, Min Hwan. Min Hwan adalah anak SMA di sekolah yang sama dengan kami. Tetapi jam pulang sekolahnya 5 menit lebih lama dari anak SMP. Sedangkan aku meminta Seung Hyeon oppa untuk menjemputku karena Jae Jin oppa belum pulang sekolah. Sesampai di gerbang kami menunggu sambil duduk di bawah pohon dekat gerbang yang masih berada di area halaman sekolah.

“Eun Ra, mau nggak nanti sore kita jalan-jalan?” Hyo Ri membuka pembicaraan.

“Mau dong. Cuma berdua aja nih?”

“Aku ngajak Min Hwan dong. Kamu ngajak Min Hyuk aja,” usulnya.

“Oke, aku usahain deh.”

Aku melihat ke luar gerbang untuk mengecek apakah Seung Hyeon oppa sudah sampai atau belum. Ternyata aku tidak melihat tanda-tanda adanya Seung Hyeon oppa. Tetapi, aku malah melihat Min Hyuk di sana.

“Hei, ada Min Hyuk tuh di sana. Gimana kalo tanya sekarang aja?”

“Oke, ayo ke sana.”

Kami berjalan menuju tempat Min Hyuk dan teman-temannya. Tetapi saat akan sampai, langkahku memelan. Entah kenapa aku merasa ragu mengajaknya, khawatir dia tak bisa ikut. Tetapi Hyo Ri terus menarikku. Akhirnya kami sampai.

Anyeong haseyo Min Hyuk dan semuanya,” aku menyapa mereka sambil tersenyum. Walaupun senyumku agak dipaksakan.

“Ada apa Eun Ra?” sepertinya dia memang berubah. Dia langsung menanyakan tujuanku datang ke sini tanpa menjawab sapaanku.

“Umm, Min Hyuk… Kamu mau nggak nanti sore jalan-jalan sama aku, Hyo Ri, dan Min Hwan?”

“Dimana?”

“Di taman mungkin.”

“Eun Ra, tentu saja aku mau,” ucapnya sambil tersenyum manis sekali.

“Benarkah?” tanyaku dengan nada yang cukup senang karena sepertinya kekhawatiranku tak akan terwujud.

“Tentu saja. Tapi…”

“Tapi kenapa?” aku mulai khawatir lagi.

“Tapi aku tidak bisa. Aku ada les sore ini. Aku benar-benar minta maaf Eun Ra. Mianhe,” Min Hyuk menjelaskan dengan ekspresi benar-benar menyesal.

“Tidak apa-apa Min Hyuk. Aku bisa mengerti. Toh itu untuk kepentinganmu juga.” Kataku berusaha mengerti dia walaupun aku kecewa.

“Bener?” tanyanya untuk meyakinkan.

“Iya, bener,” jawabku dengan senyum sebisanya dan semanis mungkin untuk menutupi rasa kecewaku.

Anyong kaseyo,” ucapku dan Hyo Ri sambil berbalik meninggalkan mereka. Saat berbalik aku melihat Seung Hyeon oppa sudah menungguku bertepatan dengan Hyo Ri melihat Min Hwan hampir sampai gerbang. Kami saling mengucapkan selamat tinggal. Aku segera menuju tempat Jong Hoon oppa untuk pulang.

*****

Saat itu aku sedang melamun sambil mendengarkan musik saat Seung Hyeon oppa memanggilku karena Hyo Ri dan Min Hwan datang. Aku menyuruh mereka menungguku bersiap-siap. Setelah selesai, kami berangkat. Rencana awalnya kami mau ke taman. Tetapi entah mengapa kami malah jalan-jalan di mall. Tetapi kami bersenang-senang di sana. Hingga kami dikejutkan oleh apa yang di lihat Hyo Ri.

“Hei, bukankah itu Min Hyuk?” tanya Hyo Ri dengan nada agak kaget.

“Hah? Yang mana?” aku dan Min Hwan bertanya serempak.

“Itu lho, di toko baju yang kayaknya sama cewek,” Hyo Ri memberi tahu sambil menunjuk tempat dan orang yang dimaksud.

“Ah iya, sepertinya itu Min Hyuk,” kata Min Hwan setelah mengamati orang itu.

“Mungkin iya,” ucapku dengan agak ragu.

Kami mendekat ke tempat toko tempat orang yang sepertinya Min Hyuk berada. Setelah kuperhatikan, dia memang Min Hyuk. Dan dia bersama seorang cewek yang nggak kukenal. Sakit memang melihat itu semua. Tetapi aku berusaha berfikiran positif. Mungkin saja itu kakak sepupunya, karena dia anak tunggal. Hingga akhirnya aku mengajak Hyo Ri dan Min Hwan pergi makan dari pada melihat mereka terus. Kami berjalan ke arah yang berlawanan dengan tempat dimana Min Hyuk berada. Aku berada di belakang Hyo Ri dan Min Hwan yang asyik bercanda. Kemudian aku menoleh ke belakang sekali. Dan kulihat mereka berpelukan. Hatiku semakin sakit melihatnya. Namun aku tetap berusaha tegar dan melupakan apa yang kulihat barusan. Aku berbalik, bergabung dengan Hyo Ri dan Min Hwan. Kami kembali bersenang-senang. Beberapa menit kemudian aku sudah melupakan apa yang kulihat tadi.

*****

Sebulan kemudian…

Entah mengapa tiba-tiba aku ingat kejadian-kejadian yang dimulai sejak sebulan lalu. Tentang apa yang aku, Hyo Ri, dan Min Hwan lihat. Setelah kami melihat Min Hyuk di mall sebulan lalu, kami sempat beberapa kali melihat Min Hyuk lagi di mall dan di taman. Dan dia selalu bersama dengan cewek yang sama. Hubunganku dengan Min Hyuk juga semakin renggang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Min Hyuk membicarakan masalah ini nanti sepulang sekolah. Saat bel pulang sekolah berbunyi aku langsung menarik tangan Min Hyuk.

“Tunggu, aku mau ngomong sama kamu sebentar.”

“Oke, ada apa?” tanyanya heran.

“Nanti kamu juga tau. Ayo ke halaman belakang,” kataku sambil tersenyum.

Min Hyuk mengerutkan kening. Lalu tanpa ragu ataupun curiga dia mengikutiku. Halaman belakang sekolah biasanya memang dipakai murid-murid untuk membicarakan suatu masalah dengan orang lain. Setelah sampai aku mulai bicara.

“Min Hyuk, ingatkah hari apa ini?” tanyaku sambil tersenyum manis.

“Tentu saja, hari Sabtu kan?” dia menjawab dengan agak ragu.

“Min Hyuk! Apa kamu lupa? Hari ini tepat setahun kita pacaran!” ucapku dengan nada seolah-olah kesal.

“Oh iya! Selamat untuk kita,” katanya sambil tersenyum manis sekali.

“Selamat selamat selamat!,” aku ikut tersenyum manis yang sebenarnya dibuat-buat.

“Nah, udah ngomongnya?” pertanyaan itu sungguh merusak suasana.

“Tentu saja belum. Aku ingin menanyakan suatu hal padamu. Maukah kamu menjawabnya?” aku masih tersenyum dan sikapku menjadi agak formal.

“Eh, tentu,” dia menjawab dengan agak ragu dan senyumnya sudah mulai memudar. Sepertinya sekarang dia menerka apa pertanyaanku.

“Min Hyuk,” aku mengela nafas, “aku ingin penjelasan tentang siapa cewek yang sering kamu ajak jalan-jalan di sore hari,” mataku mulai berkaca-kaca, tetapi aku bertahan untuk tidak menangis.

“Eh? Yang mana ya?” dia mulai pura-pura tidak tahu.

“Sudahlah, sejak sebulan lalu aku, Hyo Ri, dan Min Hwan beberapa kali melihatmu bersama seorang cewek di mall atau taman!” aku berusaha tidak menangis. Aku membayangkan Jae Jin oppa tersenyum karena senyumnya itu selalu bisa menguatkanku saat sedih ataupun meredakan amarah dan kekesalanku. Yah, aku pun tidak menangis.

Aku dan Min Hyuk terus berdebat. Hingga akhirnya aku yang menang dan dia mengakui semuanya. Sebenarnya sejak awal dia memang tidak mencintaiku. Dia hanya mempermainkan perasaanku. Cewek itu adalah ceweknya yang asli, yang sudah bertahun-tahun pacaran dengannya. Dia yang biasanya di hadapanku hanyalah topeng. Sikap manisnya hanya sandiwara belaka. Aku kecewa dan berlari meninggalkannya.

*****

Dan disinilah aku. Duduk di tanah yang becek karena terkena derasnya air hujan. Menumpahkan air mata beserta seluruh kepedihan di hatiku bersama langit yang menumpahkan air ke Seoul dengan deras. Hatiku penuh dengan rasa sakit, perih, kecewa, yang semuanya bercampur jadi satu. Min Hyuk, seseorang yang sangat berharga bagiku sampai sudah kuanggap sebagai bagian dari hidupku dan kupikir akan menjadi cinta terakhirku telah membohongiku begitu jauh. Semua perkataannya bohong, semua cintanya hanya sandiwara belaka. Aku benar-benar sangat bodoh telah mempercayainya. Tapi entah kenapa aku merasa masih mencintainya. Aku masih ingin menunggunya, aku tetap ingin bersamanya. Yah, dan beginilah akhirnya. Dia mengecewakanku, tapi aku tak sanggup melupakannya. Mungkin aku akan tetap menunggunya semampuku.

*****

Dengan seragam yang basah terkena hujan dan kotor tekena lumpur, aku berjalan pulang ke rumah.

“Hei, ada apa dengan pakaianmu Eun Ra?” Jae Jin oppa kaget melihatku yang tampak berantakan. Tetapi aku hanya diam dan tetap jalan ke kamar dan mengambil baju. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Eun Ra! Apa yang terjadi padamu?” Seung Hyun oppa yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihatku di depan kamar mandi dengan keadaan seperti ini. Aku tetap diam dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Setelah selesai aku kembali ke kamar dan menutup pintu. Lalu aku duduk di tempat tidur sambil menatap ke arah hujan yang masih mengalir deras. Ku putar lagu After Love dari F.T Island di I-pod ku dan aku kembali merenungi kejadian buruk yang hari ini telah terjadi. Lagu ini sangat cocok dengan nasib yang menimpaku.

~

Modu da geojitmariya da geojitmariya

Neoui sarangul da geojitmariya

Eetorok apuege haeso

Nal sulpuege haeso ulrego gan saranginjanha

Namanul saranghandago nal jikyeojundago

Neoui sarangun da geojitmariya

Nae maum da gajyeogago sarangdo gajyeogago

Ddeonanun ge saranginjanha

===========================================================================

Gimana? Aneh ya ceritanya? Kalo di pikir-pikir berarti sebenernya ini fanfic pertamaku. Bagi yang baca harap komen ya. Gomawo… 🙂